CITAX H2

Pengamat: Penerimaan Pajak 2017 Sudah Optimal

Liputan6.com, Jakarta – Realisasi penerimaan pajak sementara mencapai Rp 1.147 triliun atau 89,4 persen dari target Rp 1.283 triliun. Sedangkan realisasi penerimaan bea dan cukai sebesar Rp 192,3 triliun atau 101,7 persen dari target sebesar Rp 194,1 triliun. Penerimaan perpajakan tumbuh 4,3 persen dibanding 2016.

Melihat pencapaian tersebut, Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) menyatakan apresiasi atas kinerja jajaran Ditjen Pajak dan Ditjen Bea Cukai Kemenkeu atas pencapaian pada 2017 yang lebih baik dibandingkan 2016 maupun 2015, baik dari sisi nominal maupun persentase.

“Ditjen Bea Cukai bahkan berhasil melampaui prediksi dan ekspektasi. Ini adalah hasil optimal yang dapat dicapai. Di tengah kondisi perekonomian yang belum menggembirakan dan masih dalam fase pemulihan, pemungutan pajak yang agresif dan dipaksakan justru akan mengganggu perekonomian,” kata Direktur Eksekutif CITA Yustinus Prastowo kepada Liputan6.com, Sabtu (6/1/2018).

Ia menambahkan, pencapaian ini juga wujud kerja sama dan kontribusi banyak pihak dan pemangku kepentingan, terutama para wajib pajak yang patuh dan sukarela berkontribusi. Termasuk pula peran institusi di Kemenkeu antara lain BKF, Ditjen Anggaran, dan Ditjen Perbendaharaan, konsultan pajak, akuntan publik, para pengurus asosiasi, dan lainnya. Kontribusi pihak-pihak ini pun layak diapresiasi.

Dari catatannya, pertumbuhan realisasi penerimaan pajak berturut-turut adalah 6,92 persen di 2014, 8 persen di 2015, 4,26 peren di 2016 dan 3,75 persen di 2017. Sedangkan pertumbuhan realisasi penerimaan bea cukai adalah 3,72 persen di 2014, 11 persen di 2015, -0,32 persen di 2016, dan 7,43 persen di 2017.

“Meskipun secara nominal dan persentase terhadap target meningkat, namun kenaikannya secara alamiah belum cukup menopang pertumbuhan kebutuhan APBN,” ucap dia.

Sementara itu, pertumbuhan penerimaan pajak secara komposisi menunjukkan, kinerja PPh Non Migas kurang menggembirakan, tumbuh 9,82 persen di 2014, 20 persen di 2015, 14 persen di 2016, dan -5,52 persen di 2017.

Sebaliknya kinerja PPN membaik, tumbuh 6,37 persen di 2014, 4 persen di 2015, -2,72 persen di 2016, dan 16 persen di 2017.

“Ini perlu menjadi catatan karena pasca amnesti pajak kepatuhan PPh belum meningkat. Perlu dilakukan upaya pengawasan yang lebih baik, termasuk ekstensifikasi subjek dan objek pajak. Tren positif PPN perlu dipertahankan,” tutur Yustinus. (Yas)

Sumber: LIPUTAN6.COM, 6 Januari 2017

Related Post