CITAX

Pengamat: Tax Amnesty, IMF Tak Ingin RI Mandiri

METROTVNEWS.COM | 16 Maret 2016

IW3zlg2H8a

Metrotvnews.com, Jakarta: ‎Sikap skeptis yang disuarakan petinggi Dana Moneter Internasional (IMF) terhadap efektivitas pengampunan sanksi pajak (tax amnesty) disayangkan. Pasalnya, motif tersebut didasari untuk mempertahankan ketergantungan Indonesia atas pinjaman dari lembaga itu.
Menurut Direktur Eksekutif  dari Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo, sebetulnya bukan hanya IMF saja yang memandang remeh rencana tax amnesty Presiden Jokowi, tapi juga World Bank (WB). Prastowo mengungkapkan, kedua lembaga tersebut takut Indonesia tidak lagi tergantung dengan pinjaman lunak untuk proyek reformasi administrasi.

Selama ini kan mereka rajin kasih kita soft loan untuk proyek reformasi administrasi yang pengerjaannya lama, persyaratannya banyak, yang kemudian nanti mereka akan carikan konsultan untuk kita,” ujar Yustinus., melalui keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (16/3/2016).
Oleh sebab itu, Yustinus mengaku bahwa kedua lembaga donatur itu disebut akan takut jika Indonesia menerapkan tax amnesty dan tidak lagi meminjam uang dari IMF dan World Bank. Sehingga, penyuaraan skeptis terhadap kebijakan tax amnesty kerap disuarakan.
“Dengan penerapan tax amnesty ini, dan mereka memandang skeptis, ada satu nuansa bahwa mereka khawatir kehilangan pengaruh untuk Indonesia. Kita bisa berdiri sendiri tanpa soft loan, bisa membangun sendiri. Ada kecenderungan ke sana,” sambungnya.
Yustinus mengungkapkan, selama ini Indonesia memang sangat tergantung dengan IMF dan World Bank dan terkesan menikmati apa yang ditawarkan oleh lembaga keuangan asing tersebut. Sehingga ketika pemerintah Indonesia akan bergerak dengan kebijakan tax amnesty, kedua lembaga donor itu merasa agak terpukul.
“Kita itu (Indonesia) bisa dikatakan bergantung juga dengan mereka. Karena mereka memang aktif mendampingi, menawarkan diri dan kita selama ini menikmati dukungan IMF dan World Bank. Sekarang ini sebenarnya zamannya Pak Jokowi, kita sebenarnya sudah tidak terlalu bergantung sama pinjaman-pinjaman itu,” imbuh dia.
Yustinus juga menyebut, keskeptisan IMF dan World Bank terhadap kebijakan tax amnesty dianggap terlambat lantaran pemerintah Indonesia tidak mungkin mundur dengan kebijakan tersebut. Memang, secara normatif, lanjutnya, ada kesetujuan perlunya sikap hati-hati dalam menyiapkan manajemen data dan lainnya.
“Kalau mereka ngomongnya itu 10 bulan lalu, pas ide ini muncul, itu bisa dipertimbangkan, tapi kalau sekarang-sekarang, itu terlambat. Pemerintah enggak mungkin mundur soal tax amensty karena kredibilitas di sini dipertaruhkan,” ujarnya.‎
Sebelumnya, Kepala Misi IMF Luis E Bereur mengatakan, penerapan tax amnesty di beberapa negara terbukti kurang berhasil mengakselerasi penerimaan negara. Kejadian tersebut ditakutkan akan terjadi juga di Indonesia.

Komentar Anda