Artikel

Kita Diuji Karena Mampu

 

Hari-hari ini, sekali lagi Ditjen Pajak diuji. Bukan sekedar perkara biasa, melainkan ujian tentang masa depannya sendiri. Titik tolaknya tentu saja kasus yang sedang menimpa institusi tercinta ini. Mengenai apa yang sebenarnya terjadi, biarlah proses peradilan yang membuka tabir dan membuktikannya. Platform kita semua saya kira sama: yang salah harus dihukum, dan jangan pernah mengorbankan yang tidak berdosa.

Namun satu hal yang menggelitik dan menggelayuti pikiran saya yang mulai cemas adalah, bagaimana institusi sebesar DJP ini belajar dari perjalanan waktu, mengelola dan memitigasi risiko, untuk kemudian setia pada jalan yang dipilih, guna mencapai apa yang diimpikan. DJP adalah institusi penting dan besar, tiang penyangga tegaknya Republik, maka semakin banyak orang terlibat memikirkan yang terbaik baginya, saya rasa akan baik bukan hanya bagi institusi ini, tapi juga bagi masa depan negeri.

Hari-hari ini saya menyaksikan kebisuan yang ganjil. Kebisuan yang bukan pada tempatnya, justru ketika dari kita diharapkan berbicara sebanyak-banyaknya, pula sebenar-benarnya. Ini adalah hari penantian sekaligus penentuan. Penantian panjang saat kita berharap ada transformasi menuju yang lebih baik, dan penentuan karena waktu yang berpihak kerap tak sudi datang dua atau tiga kali. Maka, menyia-nyiakan momentum emas ini bisa jadi merupakah kejahatan bagi masa depan.

Sampai saat ini saya tetap percaya dan meyakini, bahwa DJP sudah jauh berubah menuju arah yang benar dan menjadi lebih baik. Bahwa masih ada satu dua hal yang tak patut atau menyimpang, itu lazim terjadi di semua rezim, tak terkecuali di negara maju. Yang terpenting adalah kita menyadari bahwa kita berada pada satu barisan yang memerangi semua yang buruk, merusak, dan berpotensi menggembosi cita-cita besar menjadikan DJP luar biasa. Bertolak dari keyakinan itu, seluruh percakapan tentang DJP dan pajak menjadi bernada optimistik, membuncahkan harapan.

Namun optimisme dan harapan itu kini diuji, oleh waktu, dan kita sendiri. Publik menantikan apa yang dulu pernah kita miliki, namun pelan-pelan tergerogoti dan menghilang, meski kita yakin itu hanya tersembunyi. Barangkali mirip pendekar yang bertapa di balik dinding goa, demi merenung dan kelak menjadi guru yang bijak. Maka, tugas kita mencari dan mendapatkannya: soliditas dan solidaritas, sebagai jiwa korsa.

Ini mungkin saat yang tepat untuk berefleksi, tentang perjalanan sejauh ini. Kita sampai di mana, berbekal apa, dan hendak menuju ke mana. Jangan-jangan ini pun saat yang tepat untuk mematri ego, menaklukkan diri demi sesuatu yang lebih besar: institusi dan negeri. Kesediaan menahan diri dan berkorban, bukan tentang yang baik buatku semata, melainkan bagi keseluruhan semesta. Lantas yang dibutuhkan bersifat paradoksal: bukan berteriak di padang gurun, tetapi membisu di keramaian. Membisu di keramaian, namun cerewet di dalam bilik sendiri.

Ini saatnya mendengar, baik dari tetua-tetua, para pendahulu yang kini bertapa dalam relung bijaksana yang dekat dengan kebajikan sorga, maupun para awak punggawa yang juga punya harap dan suara, meski kerap tercekat. Saya pribadi percaya, Pak Ken adalah orang yang sepanjang hidupnya dicurahkan bagi DJP dan ingin mewariskan banyak hal baik sepeninggalnya. Saya juga percaya, para pejabat DJP adalah mereka yang amat mencintai institusinya dan tak membiarkan tercabik, tersekat, terkotak. Pula sebagian besar pegawainya.

Dalam situasi seperti ini, duduk bersama, berbincang, bercengkerama tentang apapun yang tampak remeh temeh, agaknya amat berguna. Di atas semua perbedaan, kita adalah orang yang dididik, dirawat, diasuh, dibesarkan dari sumur penghidupan yang sama. Mari lupakan sejenak segala beda, kedepankan dialog yang setara, dengan pikiran terbuka dan hati yang bening. Niscaya, apa yang tampak buntu akan menjadi benderang penuh cahaya.

DJP sedang diuji, dan kita percaya mampu menghadapi dan melaluinya dengan baik. Kepemimpinan dan organisasi sedang ditempa, supaya terbedakan mana emas mana loyang. Kita dimurnikan, supaya semakin tangguh menghadapi banyak tantangan, dan terbedakan mana gerombolan mana sahabat seperjalanan.

Maka menghindari lubang sandera dengan bergandengan tangan, adalah sebaik-baiknya ikhtiar. Monggo Pak Ken, gelorakan kembali spirit satu jiwa, yang merasuki setiap sukma, hingga yang tersisa hanya pekik:”Kita adalah satu!” Mari para pejabat DJP yang saya banggakan, ini undangan untuk bangkit, dan bersama maju. Bukan demi kita, melainkan bangsa tercinta, dan para penerus kita. Di situlah, kita akan dikenang dalam tinta emas sejarah peradaban.
In coffea veritas , dalam secangkir kopi, kita temukan kebenaran!

Salam Hangat 06.03.2017
Yustinus Prastowo

Komentar Anda