Artikel

Sri, Jangan Pergi Lagi! -tentang utang dan cuti kewarasan-

Sri, Jangan Pergi Lagi!
-tentang utang dan cuti kewarasan-

Foto: Sri Mulyani | Sumber voaindonesia..com

Hari-hari ini, ruang publik dijejali perbantahan yang membetot perhatian sekaligus menguras energi. Tema utamanya adalah ekonomi, wabil khusus kondisi utang Pemerintah. Kabar baik dari situasi saat ini adalah politik melahirkan banyak ekonom. Kabar buruknya, banyak universitas terancam gulung tikar karena untuk menjadi analis tak perlu sekolah, cukup kepiawaian menjahit angka dan menyusun dalih. Kali ini giliran Sri Mulyani yang ketiban sampur. Menteri Keuangan brilian dengan bereputasi internasional ini tiap detik ditarik-tarik untuk merasakan betapa menjadi gladiator di panggung medsos itu penting, bahkan dijadikan ukuran kecakapan seseorang. Bukan malah bekerja, tapi membuang waktu bersama para pecundang.

Hulu perdebatan adalah janji kampanye Presiden Joko Widodo yang tidak akan menambah utang luar negeri jika berkuasa. Faktanya ia justru menambah utang luar negeri meskipun diklaim penggunaannya untuk tujuan-tujuan investasi yang lebih produktif. Jokowi dianggap cidra janji. Tanpa ampun, para penyinyir menghujani dengan olok-olok tanpa mau tahu bahwa kondisi perekonomian nasional dan keuangan negara memang sedang sulit. Idealnya pajak digenjot sebagai sumber utama pembiayaan pembangunan. Tapi sudikah kita jadi sasaran? Tidak! Justru banyak orang berduit merengek minta pengampunan. Sedikit disenggol, teriaknya bikin Republik terguncang. Dan jangan-jangan, barisan para penyinyir itupun ada pembonceng gelap dan pengelak pajak garda depan. Entahlah!

Kita lebih gemar mengulik angka-angka statistik untuk membenarkan posisi masing-masing ketimbang duduk bersama, berdiskusi hangat sambil menyeruput kopi, mencari solusi buat negeri. Persoalan konstitusi jatuh ke sekadar masalah akuntansi. Diimbuhi, kita kerap menempatkan diri sebagai manusia agung yang tak pernah bersinggungan dengan kekumuhan dan cacat dunia. Utang itu buruk! Dan pada saat bersamaan kita sesungguhnya bisa memiliki rumah atau mobil lantaran fasilitas pinjaman, meski tak sedikit pengalaman orang terlilit utang, bangkrut, dan gila. Jadi persoalannya bukan apakah saya paham atau tidak logika berutang, tetapi karena perbedaan pilihan politik maka utangmu menjadi masalah, entah esok hari jika peta koalisi ternyata berganti lagi.

Kembali ke Sri Mulyani, ia ketiban sampur. Dalam tradisi Jawa, ketiban sampur itu terpilih secara acak di luar kehendak kita. Bisa ditafsirkan sebagai apes, tapi kadang juga bermakna kambing hitam. Utang Pemerintah itu bukan aksi sepihak, melainkan keputusan bersama antara Pemerintah dan DPR yang terdiri dari partai penguasa dan oposisi, dan tertuang dalam UU APBN. Menteri Keuangan, siapapun itu, menjalankan UU. Jika ingin argumen sedikit bermutu, kenapa harus utang? Karena kita ingin membangun dan tak punya uang. Kita hendak mengejar ketertinggalan, ingin melayani rakyat dengan baik, memberi subsidi dan penghidupan yang layak. Kita butuh uang dan pajaklah yang menjadi andalan. Benar belaka jika Jokowi pernah bilang “gampang karena uangnya ada”. Silakan lihat data amnesti pajak yang menakjubkan itu, hampir Rp 5000 trilyun harta dideklarasikan!

Namun dalam situasi perekonomian nasional dan global yang masih muram, maukah kita dikejar-kejar untuk membayar pajak lebih tinggi? Atau akan diamkah para pengemplang pajak jika dijadikan sasaran penarikan pajak? Tidak. Kita hidup bukan di ruang kosong, tetapi di ruang yang penuh tarik-menarik kepentingan. Maka kita saling berbicara, memahami, dan berdamai. Tak mudah namun kadang perlu dicoba. Pilihan kedua kita membelanjakan apa yang kita punyai, tanpa perlu berutang. Konsekuensinya kita akan semakin jauh tertinggal dan imajinasi tentang Indonesia yang adil, makmur, sejahtera itu hanya akan menjadi fiksi belaka.

Lantas perlukah berdebat soal utang? Iya dan tidak. Presiden Jokowi benar ketika mempersilakan siapapun yang ingin berdebat dengan basis data, lawannya Menkeu Sri Mulyani. Kata kuncinya ada pada data, bukan berdebat. Tak heran ada barisan para mantan yang tak mau menyia-nyiakan peluang. Ini panggung besar yang bakal mengerek popularitas, bukan soal kalah menang. Namun bagi Sri Mulyani inilah saatnya menoleh ke petuah para bijak “kalah wirang, menang ora kondang!” (jika kalah akan malu, dan meski menang pun nggak akan terkenal). Dengan segudang data, pengetahuan, dan pengalaman, kita yakin Sri Mulyani akan menang, tapi itu tak menambahkan apapun padanya selain kehilangan waktu untuk bekerja.

Saya lantas teringat Rene Girard dengan teori kambing hitamnya. Dari perspektif korban, kambing hitam itu bukan pelaku yang salah tapi ia memang harus ada untuk dijadikan sasaran, demi kekerasan kolektif yang teredam karena mendapatkan saluran. Lugasnya, Sri Mulyani disalahkan bukan lantaran dia salah, tapi harus ada yang bersalah. Tapi kita bukan bangsa primitif yang hidup dengan peradaban lama. Selain kaya kearifan lokal, kita juga bangsa dengan relijiusitas tinggi dan memeluk demokrasi. Maka tak boleh ada korban jatuh, apalagi Sri Mulyani harus menjadi martir untuk kedua kalinya.

Kita harus menulis sendiri sejarah pemikiran kita, tanpa perlu meminjam angin untuk beretorika dan mengumbar dalih. Negara ini juga bukan hanya setahun atau dua tahun berutang. Bahkan rezim Orde Baru mewariskan bukan hanya jumlah utang yang bertumpuk, juga mentalitas utang yang koruptif karena tak membangun kemandirian melalui pajak. Meski kita sepakat utang itu alternatif pembiayaan, bukan ideologi yang butuh keniscayaan. Di sinilah ruang diskursus yang sehat terbuka lebar: ikut memikirkan dan mencari altrernatif pembiayaan yang bagus dan berkelanjutan. Mengelola utang secara baik pun merupakan prestasi tersendiri. Utang bukan buat konsumsi, melainkan investasi.

Di titik inilah kita harus mengobarkan optimisme. Amat kasihan bangsa ini jika tiap hari dijejali narasi yang murung dan pesimistik, jauh mundur dari idealisme dan imajinasi para pendiri bangsa. Indonesia yang bak potongan sorga jatuh ke bumi ini layak disyukuri, dirawat, dan ditumbuhkembangkan. Kita harus bicara produktivitas, daya saing, semangat berkompetisi, spirit berinovasi, dan keberanian. Nah, ciri corak itu justru melekat pada sosok Sri Mulyani. Ia adalah batu yang dulu dibuang tukang bangunan dan kini menjadi batu penjuru. Kesabaran dan kewarasan memberinya ruang artikulasi mahaluas dengan torehan prestasi berskala global, namun kepicikan membuat kita terpuruk.

Saya makin yakin bangsa ini belum maju bukan karena kekurangan orang hebat, tetapi akal sehat terlalu cepat mengambil cuti, mendahului pengumuman resmi Pemerintah. Bangsa ini harus membentuk dan menjemput sendiri takdirnya, berani mengelak dari ketiban sampur mala yang merugikan. Koalisi orang-orang baik perlu semakin diperkuat dan defisit kewarasan harus segera diatasi. Tak perlu muluk-muluk seperti berdebat soal ilmu ekonomi atau ideologi. Cukup dengan ‘ngilo githoke dhewe’ (bercermin pada tengkuk sendiri supaya sadar punya kekurangan sehingga bisa merasa).

Dulu kita merindukan Sri, hingga Sonny Josz menggubah lagu “Sri Minggat”, dan lirik ini amat mengguncang “Ndang balio Sri…aku lara mikir kowe ana neng ngendi…” (Sri, segeralah pulang, aku sakit memikirkanmu ada di mana). Kini, ketika Sri sudah kembali, kita mau menyia-nyiakannya lagi. Jangan sampai kita menjadi bangsa yang tak tahu diuntung. Perlulah kita mengingat satu nasehat agung dalam Serat Kalatidha gubahan Ranggawarsita,”sak bejo bejane wong kang lali, isih beja wong kang eling lan waspada.” Seberuntung-beruntungnya orang yang lupa (daratan), masih beruntung orang yang ingat dan waspada. Ingat pada prinsip atau tuntutan, dan waspada dengan berlaku cerdik seperti ular dan tulus bak merpati.

Jika ini zaman edan, jangan takut tidak kebagian. Ingat, resep untuk menjaga kewarasan adalah memproduksi hormon erdofin, yang hanya kita peroleh dengan bercinta atau tertawa. Jika tak bisa mendapatkan keduanya, baiklah kita belajar menertawai diri sendiri yang kerap tak sadar menjadi bahan tertawaan. Jika tetap ingin bercinta, kawinlah! Jika tak punya uang, berutanglah! Bolehlah kita bersama Sri ambil bagian menuntaskan persoalan bangsa dan melukis masa depan gemilang penuh harap. Kali ini, jangan sampai Ibu Pertiwi meratap lirih:”Sri, kowe isih eling, janji sehidup semati, aja lunga, mengko aku lara….”

Bogor, 13 Mei 2018
Yustinus Prastowo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *