REPUBLIKA.CO.ID | 03 DESEMBER 2015

REPUBLIKA.CO.ID,Yustinus Prastowo, Pengamat Perpajakan: Dibuat Realistis Agar tak Jadi Beban
Apa tanggapan Anda dengan mundurnya Dirjen Pajak Sigit Priadi Pramudito dari jabatannya?
Kalau saya lihat, memang alasannya target penerimaan yang tidak tercapai. Memang masih jauh banget, baru 65 persen, padahal tinggal sebulan lagi. Dari sisi kinerja realistis, beliau menganggap dirinya gagal sehingga menyerahkan ke orang lain.
Menurut Anda, ada alasan lain terkait mundurnya Sigit?
Kalau latar belakangnya, saya masih menduga-duga, tapi kemungkinan ini sebenarnya terkait konsolidasi pemerintah juga. Artinya, pemerintah ingin memastikan bekerja sama dengan orang yang pemahamannya sama.
Dalam jangka pendek, salah satunya dalam rangka membangun hubungan dengan parlemen, terkait rencana pengampunan pajak yang akan diberlakukan pemerintah. Mungkin, pemerintah ingin supaya lebih solid.
Apakah tidak disayangkan dengan mundurnya Sigit, dan seperti apa penggantinya nanti?
Memang ini sangat disayangkan, apalagi tinggal nunggu sebulan lagi, itu juga sudah ketahuan hasilnya seperti apa dan akan sama-sana enak sebulan lagi, karena dari sisi pegawai tidak merasa ditinggalkan, dari sisi dia juga merasa dinilai dengan fair.
Tapi saya kira, pertimbangannya ketika target sudah tidak mungkin tercapai dan saya kira ada alasan terkait karena dipandang pemerintah perlu konsolidasi dalam melakukan hubungan dengan DPR.
Apakah target yang diberikan pemerintah terlampau tinggi?
Memang ketinggian, kalau realistisnya itu ketinggian, karena itu kan dua kali pertumbuhan alamiah. Sementara, kondisi ekonomi menurun dan melambat, dari sisi itu tidak pas, maka sebenarnya yang perlu dilakukan jangan sampai ada korban-korban lagi ke depannya.
Kalau begini, akan terulang terus kaena tidak realistis dan harus dibuat realistis supaya tidak jadi beban. Pemerintah harus mengusulkan APBNP untuk merevisi target penerimaan pajak tahun depan.
Kedua, ukuran kinerja dirjen pajak jangan hanya target penerimaan, tapi juga yang lain, misalnya bagaimana tax ratio secara gradual bisa ditingkatkan, SDM semakin profesional, dan hubungan dengan lembaga lain bagus. Itu juga harus jadi indikator supaya fair.
Berapa target penerimaan pajak yang ideal?
Kira-kira begini, menurut saya, dari target realisasi tahun ini ditambah 15 persen, saya kira, berarti ya sekitar Rp 1.200 triliun, malah turun sebenarnya, tapi itulah yang realistsis.
Adakah kaitan mundurnya Dirjen Pajak dengan ketidakmampuannya menyadarkan para wajib pajak untuk taat membayar?
Nggak saya kira, itu sih bisa dimaklumi. Saya kira background-nya pertimbangan tadi, mau dikonsolidasi, arahnya ke situ. n ed: ferry kisihandi


