CITA | 16 September 2016
Tax Amnesty dan Budaya Antre
Tax Amnesty bukan sekedar matematika dan angka, ia adalah cara kita membangun peradaban dan tradisi.
Banggalah jadi wajib pajak entah besar atau kecil, maka banggalah jadi pengantre!
(Yustinus Prastowo – Direktur Eksekutif CITA)
Ada hal yang mengganjal dalam pelaksanaan amnesti ini. Pelayanan terhadap wajib pajak masih dipilah berdasarkan “besar” dan “kecil”. Apakah ukuran ini tepat atau menyesatkan, perlu didalami.
Tapi saya prihatin ketika wajib pajak besar bisa secepat kilat mendapatkan tanda terima bahkan SKPP. Mereka pun tak tanggung-tanggung diterima oleh Dirjen Pajak atau pejabat lain. Lalu tak lupa pamer dan bersaksi bahwa ikut TA itu mudah dan pelayanannya bagus.
Kasihan wajib pajak kecil dan petugas pajak di lapangan. Faktanya kini antrean menumpuk dan tidak bisa cepat. Yang terjadi lalu marah dan mengamuk. Kelemahan sistem ditimpakan jadi kesalahan manusia, dan ujung-ujungnya persepsi makan korban.
Saya tempo hari memilih ikut mengantre. Meski cukup lama karena ada kendala teknis. Mengantre itu persoalan etis dan pilar penyangga budaya adiluhung. Dari kebiasaan antre kita belajar rendah hati, disiplin, menghargai waktu, toleran, sabar, dan bersosialisasi.
Mengabaikan budaya antre sama artinya melecehkan adab dan etika. Apalagi dalam dunia perpajakan lazim dikenal pendekatan “ability to pay”, yang mampu membayar lebih besar. Bukan yang mendapat manfaat terbanyak yang membayar paling besar. Besar kecil hanya diperlukan dalam administrasi untuk pengawasan, bukan pelayanan.
Bagaimana kita mau bergotong-royong kalau sejak awal sudah dipilah besar-kecil, domba-kambing, gandum-ilalang? Demi kepentingan kebersamaan, mari kembalikan budaya antre dan memperlakukan semua wajib pajak sebagai pahlawan, sesuai kemampuan masing-masing.
Negara ini bukan cuma milik APINDO, KADIN, atau yang lain. Ini milik kita bersama. Jangan sampai peringatan Michael Sandel dalam bukunya “What Money Can’t Buy” jadi kenyataan. Pilih antre atau membayar supaya duluan? Tax Amnesty bukan sekedar matematika dan angka, ia adalah cara kita membangun peradaban dan tradisi.
Banggalah jadi wajib pajak entah besar atau kecil, maka banggalah jadi pengantre!
Yustinus Prastowo


