CITAX

Perang Tarif "Nelpon Murah" Rugikan Operator dan Konsumen

BERITASATU.COM | 11 Oktober 2016
481476179897
Jakarta – Perang tarif di antara operator seluler memang bukan hal yang baru. Mereka berlomba-lomba memberikan tarif nelpon serendah mungkin untuk bisa mengakuisisi pelanggan baru. Bila dilihat sepintas, tarif murah tersebut sepertinya menguntungkan konsumen. Padahal sesungguhnya itu bisa mengorbankan kepentingan konsumen yang lebih luas.‬
Direktur Eksekutif Center of Indonesia Taxation Analysis (CITA), Yustinus Prastowo menilai, perang tarif atau yang ia sebut sebagai “predator price” ini sebenarnya hanya menguntungkan konsumen dalam jangka pendek. Karena upaya operator seluler menurunkan tarif pembicaraan serendah-rendahnya ini akan membuat margin keuntungan operator semakin tipis.
“Secara agregat, predator price ini akan membuat perusahaan merugi. Ketika rugi, mereka tidak bayar pajak ke negara. Akhirnya tidak ada penerimaan yang seharusnya bisa digunakan untuk belanja publik yang dapat dinikmati oleh lebih banyak masyarakat, ini yang berbahaya,” papar Yustinus Prastowo, di Jakarta, Selasa (11/10).
Memberikan tarif serendah-rendahnya saat ini tengah dilakukan sejumlah operator untuk pasar di luar Pulau Jawa. Belum lama ini, XL Axiata mengeluarkan program Rp 59 per menit untuk menelepon ke semua operator.‬ Sebelumnya Indosat Ooredoo juga pernah menurunkan tarif pembicaraan antaroperator menjadi Rp 1 per detik (Rp 60 per menit).‬
“Untuk Pph badan, hanya Telkomsel saja yang bayar. XL dan Indosat tidak karena rugi fiskal akibat selisih kurs dan biaya bunga,” tuturnya.
Prastowo menambahkan, terjadinya perang tarif ini juga dipicu oleh penentuan tarif interkoneksi menggunakan metode simetris, di mana besaran tarifnya dibuat sama antara satu operator dengan yang lain tanpa memperhitungkan investasi yang sudah dikeluarkan operator.
Metode simetris yang digunakan menurutnya berpotensi menimbulkan persaingan usaha tidak sehat, yaitu dengan cara memberikan ruang bagi beberapa provider tertentu yang memiliki biaya operator lebih rendah dari tarif interkoneksi untuk menekan harga serendah-rendahnya, sehingga terjadi perang harga di pasar.
Herman/FMB

Komentar Anda