Opini

Menyoal Modernisasi

CITA | 29 Oktober 2016

Beberapa waktu terakhir kita kerap menjumpai istilah modernisasi. Catatan kecil ini sekedar guratan kegundahan saya atas pemakaian istilah ‘modernisasi’ di beberapa instansi pemerintah, yang kerap digunakan di samping kata “Reformasi”. Kini pemakaiannya diikuti secara latah oleh berbagai lembaga. Tampak gagah, namun tak terang betul. Seraya hendak menangkap dalam-dalam maksudnya, saya justru semakin bingung, setidaknya menghadapi dilema ketika ingin memahaminya lebih dalam. Barangkali istilah ini kadung jamak diterima, mengalami inflasi tanpa perlu dijernihkan, dan diterima sebagai sebuah nasib ketimbang hasil adonan pelbagai tegangan dan diskursus yang terjadi. Boleh jadi apa yang saya tulis dan amati tidak tepat, tapi setidaknya kita bersetuju pada kata yang sama dan mungkin merujuk pada hakikat yang berbeda.

Modern berasal dari kata Latin ‘modernus’ yang arti harfiahnya kira-kira ‘masa kini’. Ia adalah patahan penting dan ambiguitas dalam sejarah Barat, yang lahir dari rahim Judeo-kristiani dan berkait-kelindan dengan Helenisme. Ada tiga momen penting yang saya ingat ketika ‘modern’ itu lahir. Pertama, Rennaisance, yang ditandai dengan humanisme – melawan skolastisisme abad Pertengahan – sebuah minat menggali kembali sumber-sumber kuno setelah Eropa lelah dalam jeratan skolastisisme dan berkecambahnya perang saudara akibat perselisihan kekuasaan Gerejawi. Kedua, temuan penting Copernicus mengenai heliosentrisme, yang sejatinya bersifat hipotetis dan hingga Galilei pun dimaksudkan demikian, sebagai simbol pembalikan pusat dari bumi ke matahari yang implikasinya meluas hingga ke ancaman runtuhnya Otoritas gereja, dan ketiga, apa yang disebut Immanuel Kant sebagai ‘Enligtenment’ atau Pencerahan, sebuah seruan ‘sapere aude’, yakni ajakan untuk berani berpikir sendiri, tanpa embel-embel otoritas dan rujukan adi-duniawi, hal yang dianggapnya sebagai kekanak-kanakan.

Ketiga hal itu bertalian, meski tak mudah dijelaskan tali-temali penyebabnya. Intinya adalah ada sebuah pembalikan, semangat baru dalam memandang dunia dan persoalannya, dan yang jelas tampak adalah gairan untuk berani menemukan sesuatu yang baru. Modernitas lantas bisa dipahami sebagai patahan dengan abad sebelumnya yang disebut “Dark Age”, yang secara teologis boleh jadi merupakan pembalikan teosentrisme ke antroposentrisme, manusia menjadi pusat dan subjek. Secara ilmiah berarti dimulainya era baru, perpisahan dengan geometri Euclidian, fisika Aristotelian, dan membuka kesempatan baru untuk tak memandang Tuhan sebagai “pengisi lubang” (God of the gaps), melainkan sebagai sebuah “ada” yang juga dapat dipertanyakan.

Modernitas lantas menjadikan iman tradisional goyah, manusia dituntut mencari pijakan baru yang rapuh dan rentan, bahkan kadang tak meyakinkan untuk jadi topangan. Keyakinan modern akan kemajuan pada akhirnya bertautan dengan rasionalitas teknologis. Apa yang dikhawatirkan oleh Friedrich Nietzsche – filsuf Jerman – mengenai banalitas modernisme, yang hanya menghasilkan manusia-manusia penakut, pembunuh Tuhan tapi getir dalam menapaki hidup baru. Manusia lemah sebagai kawanan moral yang ambivalen, jauh dari spirit Dyonisian Yunani Kuno, ketika dengan heroik memuja dan menghayati tragedi. Manusia modern adalah subjek yang kemudian tertelan ciptaannya sendiri yakni teknologi, dan menjadi objek. Ada pelenyapan subyek: government menjadi governance, structural adjustment, reformasi pajak menjadi reformasi administrasi, dan sebagainya. Pembebasan yang didamba tak kunjung tiba karena diam-diam apa yang dulu mereka singkirkan – yakni kekuasaan – tetap menyelinap hadir dalam mentalitas kolonial, ingin menjajah dan meraup semuanya. Persis sebagaimana terjadi dalam kalkulasi saintifik: yang keramat disingkirkan, tapi akhirnya modernisme tak ubahnya membuang agama lama dan memeluk agama baru.

Saya lantas teringat pernyataan Marshall Berman dalam bukunya ‘All That is Solid melt into Air”(1984). Ia berkata:
‘To be modern is to experience personal and social life as a maelstrom, to find one’s world in perpetual disintegration and renewal, trouble and anguish, ambiguity and contradiction: to be part of a universe in which all that is solid melts into air. To be a modernist is to make oneself somehow at home in this maelstrom, . . . to grasp and confront the world that modernization makes, and to strive to make it our own.’ Modernism aims ‘to give modern men and women the power to change the world that is changing them, to make them the subjects as well as the objects of modernization.’

Saya hanya ingin mengaca pada sejarah Barat mengenai modernitas. Adakah kita sadar ketika memakai istilah ini, baik secara historis, konseptual, maupun teknis? Ataukah jangan-jangan segala asumsi itu dianggap valid tanpa bersedia mengujinya? Persoalan subjek, objek, dan proses butuh pengandaian-pengandaian mendasar, keberanian berpikir sendiri, otonom, dan rasional. Kini modernitas banyak dikritik oleh penganut pascamodernitas, karena pengabaian pada narasi-narasi kecil, praktik keseharian yang digerus ideal-ideal raksasa dan utopis.

Semoga kegundahan ini adalah bagian dari proses pembatinan atas apa yang akan dituju. Mungkin saja telos (tujuan) itu tak akan tergapai, tapi toh perjalanan harus dimulai sekarang. Maka ketika bahtera sudah disiapkan, kawan seperjalanan sudah dihitung, dan arah angin coba ditaja, perjalanan harus berlanjut. Biarlah akhirnya batu uji itu adalah kegagalan yang mendidik, bukan kekhawatiran berlebih yang memiriskan tiap tindakan. Modernitas, modernisasi dan gejalanya perlu diperbincangkan lebih sungguh-sungguh, supaya kita tak jatuh dalam konsep yang miskin isi. Sanggup dan siapkah kita memenuhi prasyarat modernitas, yakni mengubah paradigma, cara berpikir, dan cara bertindak? Jika untuk hal ini saja kita belum yakin, jangan-jangan kita memang sedang bercanda untuk suatu urusan besar dan serius. Apakah artinya kita sudah bisa menerka hasil sebelum semua usai? Walahualam.

Salam hangat,

YP

Komentar Anda