CITAX

Kurangi beban, pemerintah tetap lanjutkan rencana konversi utang di tahun depan

Pemerintah tetap akan melanjutkan langkah dan strategi mengonversi sebagian utang pemerintah di tahun depan. Konversi utang ini dilakukan agar biaya utang di anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) menjadi lebih kecil.

Direktur Strategi dan Portofolio Pembiayaan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Riko Amir mengatakan, rencana konversi pinjaman dalam bentuk mata uang satu ke mata uang yang lain masih menjadi rencana di tahun 2021.

Hanya saja, Riko belum bisa menginformasikan berapa jumlah utang yang akan dikonversi pemerintah di tahun 2021. “Besarannya belum dapat dipastikan karena masih melihat kondisi di tahun depan,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Minggu (23/8).

Senada, Staf Khusus Kementerian Keuangan Yustinus Prastowo mengatakan, langkah pengelolaan dan pengendalian risiko utang pemerintah lewat konversi mata uang masih akan dilanjutkan di tahun 2021 dengan melihat kondisi pasar keuangan.

Menurutnya, dengan langkah mengonversi sebagian mata uang, bisa jadi di tahun depan tidak mendapatkan suku bunga mendekati 0% seperti di tahun 2020.

“Karena kondisi Covid-19, mungkin suku bunganya tidak 0% seperti sebelumnya, akan tetapi saat ini masih lebih rendah karena sedang ada likuiditas yang cukup melimpah karena stimulus,” kata Yustinus kepada KONTAN.

Pemerintah saat ini sedang memperhitungkan berapa potensi mata uang yang akan dikonversi di tahun depan. Yang pasti, Yustinus menambahkan, pemerintah akan mengonversi pinjaman yang tentu arahnya ke mata uang dengan volatilitas rendah dan suku bunga yang rendah.

Sebagai informasi, pada periode September 2019 – Maret 2020, pemerintah sudah mengonversi utang luar negeri bermata uang dollar sebesar US$ 3,8 miliar. Utang tersebut dengan suku bunga mengambang basis London Inter-Bank Offered Rate (Libor) dikonversi ke dalam mata uang euro dan yen dengan suku bunga tetap (fix) mendekati 0%.

Dengan suku bunga pinjaman tetap mendekati 0%, pemerintah tidak terbebani perubahan bunga utang hingga masa pinjaman berakhir.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Riza Annisa Pujarama menilai, apabila kebijakan dan langkah ini efektif untuk menjaga stabilitas nilai tukar serta menjaga risiko utang, pemerintah tentu memiliki peluang yang bagus untuk melanjutkan konversi utang di tahun depan.

“Tapi perlu mengkaji lagi kondisi domestik dan global tahun depan tentunya,” kata Riza.

Menurutnya, pemerintah juga perlu memperhitungkan permintaan dan suplai mata uang untuk mempertimbangkan besaran yang akan dikonversi  agar tetap seimbang. Sehingga pemerintah juga akan meminimalisir risiko volatilitas nilai tukar.

Riza menilai, mata uang yang secara global cukup kuat saat ini adalah mata uang euro, yen dan poundsterling atau GBP.

Sumber: kontan.co.id, 23 Agustus 2020

Komentar Anda