CITAX

TERPOPULER: Panama Papers Minim Orang AS, Kenapa?

OKEZONE.COM | 14 April 2016
terpopuler-panama-papers-minim-orang-as-kenapa-yjfm1gmD5E
JAKARTA – Beberapa waktu lalu, 11,5 juta dokumen rahasia dari 214.000 di berbagai negara bocor ke publik. Nama-nama yang diyakini melakukan pencucian uang dan penggelapan pajak pun kini dapat diakses dengan mudah oleh berbagai negara.
Menariknya, dari dokumen yang bocor dari firma hukum Mossack Fonseca ini hanya terdapat segelintir nama orang Amerika Serikat. Dari 11,5 juta data yang berhasil diretas, hanya terdapat 200 nama pengusaha Amerika Serikat yang bocor ke publik. Padahal, nama orang Indonesia dalam dokumen tersebut mencapai lebih dari 2.500 nama.
Lantas, apakah yang menyebabkan, sedikitnya nama orang Amerika Serikat dalam dokumen tersebut?
Memang, selama ini terdapat spekulasi yang menyatakan bahwa sedikitnya nama orang Amerika Serikat dalam Panama Papers adalah karena letak geografis Panama yang terdapat di benua Amerika. Namun, pernyataan ini dapat terbantahkan dengan beberapa kebijakan insentif pajak yang dikeluarkan oleh pemerintah Amerika Serikat.
Menurut Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo, salah satu alasan mengapa tak banyak nama orang Amerika Serikat dalam Panama Papers adalah karena para pengusaha telah merasa nyaman dengan aturan perpajakan di negeri Paman Sam tersebut. Salah satunya adalah aturan insentif yang diberikan kepada para pengusaha besar.
“Memang di sana (Amerika Serikat) itu banyak insentif. Seperi salah satunya adalah badan amal. Melalui badan amal ini para pengusaha tersebut akan mendapatkan insentif pajak yang cukup besar,” kata Yustinus kepada Okezone di Jakarta.
Tak hanya itu, para pengusaha pun juga dapat mengakali ekspansi usaha dengan membentuk office holding sebagai perpanjangan tangan perusahaan di luar negeri. Dengan begitu, double taxation pun juga dapat dihindari sesuai dengan peraturan perpajakan Amerika Serikat.
“Kebanyakan orang Amerika itu menyimpan uangnya di Swiss dan Luxembourg. Mereka juga bentuk perusahaan perpanjangan tangan dalam bentuk office holding,” ungkapnya.
Untuk diketahui, memang terdapat beberapa negara tujuan tax havens yang menjadi favorit para pengusaha asal AS. Negara-negara favorit tersebut di antaranya adalah Kosta Rika, Cyprus, Hong Kong, Irlandia, Luxembourg, Belanda, Panama, Singapura, Swiss, dan Taiwan.
Namun, hal ini tak menyebabkan AS kehilangan pendapatan pajak dalam jumlah besar. Sebab, para pengusaha asal AS tetap mengapresiasi kebijakan perpajakan oleh pemerintah.

(mrt)

Komentar Anda