Mild Report

Adam Smith dan Ekonomi Pandemi

Oleh Y. D. Anugrahbayu

Bila kelak wabah ini mereda, ada satu ungkapan yang akan tertera besar-besar dalam ingatan: “Kami tahu bagaimana memulihkan ekonomi. Yang kami tak tahu adalah bagaimana menghidupkan lagi orang mati.” Kata-kata itu mengalir dari Nana Akufo Addo, Presiden Republik Ghana, ketika ia mengumumkan karantina wilayah parsial di Ghana 27 Maret lalu.

Dari situ terbentuk kesan—yang tak seluruhnya tepat—bahwa apa yang disebut ‘ekonomi’ itu tak ubahnya pedagang tamak yang sanggup menjual apa saja demi laba, termasuk nyawa (nyawa orang lain, tentu). Dari kesan terbitlah rumus: ekonomi versus kesehatan publik. Dari rumus menyeruak imperatif: pilih salah satu! Mirip seorang penodong.

Kata ‘ekonomi’ telah jadi semacam gudang berantakan. Ke dalamnya bisa masuk makna apa saja, mulai dari ‘jual-beli,’ ‘untung-rugi’, ‘kalkulasi atas gejala sosial’, ‘kekayaan’, sampai yang paling sederhana seperti ‘hemat’ atau ‘efisien’—juga bahkan merk sabun colek. Mana yang benar, tak pasti. Mungkin semua—dengan kata lain, tak ada. Tetapi barangkali kita bisa mulai menelusurinya dari satu nama abadi dalam ilmu ekonomi: Adam Smith (1723-1790).

Salah satu karyanya yang terpenting, An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations (1776; kerap disebut The Wealth of Nations saja), tak pernah selesai diperbincangkan. Ronald Coase (dikutip dalam Herry-Priyono 2007, 1-2), pemenang Hadiah Nobel Ekonomi 1991, pernah berujar, “Apa yang terjadi dengan ilmu ekonomi dalam dua ratus tahun terakhir tidak lebih dari kerja mengepel…, para ekonom hanya mengisi celah, mengoreksi kekurang-tepatan, dan mempercantik analisis The Wealth of Nations.”

Dari situ tampak betapa besar nama Adam Smith, bahkan sampai ratusan tahun setelah wafatnya. Kini kita mengenalnya sebagai ‘Bapak Ilmu Ekonomi.’ Tetapi di balik lugasnya sebutan itu, tersembunyi masalah yang tak mudah. Lahirnya sebuah disiplin ilmu—seperti kelahiran seorang bayi—kerap terdengar indah dan menggembirakan, kendati prosesnya sulit dan sakit.

Lanskap intelektual zaman Smith tak seperti zaman kita. Spesialisasi ilmu-ilmu mulai terbentuk, tetapi tentu belum setegas dan sebanyak seperti yang kini kita kenal. Smith sendiri, selain Bapak Ilmu Ekonomi, dikenal juga sebagai filsuf moral dan politik. Kadang-kadang orang juga menyebutnya sebagai perintis ekonomi-politik (political economy), bersama deretan nama seperti Thomas Malthus, David Ricardo, kadang-kadang juga Karl Marx. Di sela-sela kesibukannya dengan tema-tema itu, Smith juga seorang penikmat astronomi.

Dari periode hidupnya tampak, ia hidup pada sebuah masa ketika dunia intelektual Barat sedang gandrung dengan metode ilmu-ilmu alam. Ilmu-ilmu sosial-kemanusiaan berupaya mencapai derajat kepastian yang mendekati ilmu-ilmu alam atau bahkan matematika. Hal itu tentu erat terkait erat dengan semangat zaman Pencerahan (Aufklärung), sebuah masa ketika ilmu pelan-pelan lepas dari macam-macam otoritas, menegakkan kemandirian akal budi di hadapan agama dan pandangan-dunia klasik—sebuah proses yang sudah tentu tak terjadi dalam semalam.

Dalam semangat zaman semacam itu, para pemikir kerap membuat kesejajaran antara gejala sosial-kemanusiaan dengan gejala alam. Terkenal kata-kata Immanuel Kant dalam Kritik der praktischen Vernunft, yang tertera pada nisan makamnya: “Langit berbintang di atasku, hukum moral dalam batinku”—suatu ungkapan takzim tentang harmoni antara keteraturan alam dan kesadaran moral. Thomas Hobbes (dikutip dalam Herry-Priyono 2007, 6) juga pernah mengatakan hal senada, “Setiap orang menghindari kematian; ia melakukan itu dengan keniscayaan alami, sama seperti bagaimana sebuah batu jatuh ke bawah.”

Smith sendiri, seperti banyak pemikir zaman itu, amat terpesona pada Isaac Newton. Ia mendambakan tatanan sosial (social order) sebagaimana Newton membangun tatanan alam (natural order). Dalam konteks itu kita bisa memahami kata-kata Smith dalam The Wealth of Nations yang terkenal (1977 [1776], 30-31):

“Bukan dari kebaikan hati tukang daging, tukang minuman, atau tukang roti kita mengharapkan makanan, melainkan dari perhatian mereka pada kepentingan mereka sendiri. Kita mengarahkan diri bukan pada rasa kemanusiaan mereka melainkan pada rasa cinta-diri mereka, dan jangan pernah bicara kepada mereka tentang kebutuhan kita, melainkan bicaralah tentang keuntungan mereka.”

Kepentingan-diri (self-interest) bagi Smith ibarat gaya gravitasi dalam pandangan-dunia Newtonian: suatu prinsip penggerak sekaligus penjelas mengapa orang melakukan apa yang ia lakukan. Itu bukan berarti bahwa Smith tak mengenal motivasi altruis. Yang hendak dijelaskannya adalah apa yang terjadi dalam perdagangan, di mana orang-orang yang tak saling kenal bersedia saling tukar untuk memenuhi kebutuhan masing-masing.

Dalam bayang-bayang filsafat Stoa, Smith masih membedakan antara moralitas kaum unggul dan moralitas orang biasa. Kepentingan-diri adalah motor moralitas orang biasa—jadi bukan satu-satunya jenis moralitas. Yang hendak ditekankan dengan itu adalah keterbatasan perspektif orang biasa dalam memenuhi kebutuhannya: bukan demi ‘kesejahteraan umum,’ bukan demi ‘kepentingan bangsa dan negara,’ melainkan demi kepentingan perutnya sendiri.

Dari situlah mengalir teori Smith yang terkenal tentang tangan tak kelihatan (invisible hand). Tulisnya dalam The Wealth of Nations (1977 [1776], 593-594):

“Pada umumnya […] ia tak bermaksud memajukan kepentingan umum, ia tak tahu pula seberapa besar ia memajukannya. […], ia hanya bermaksud menjaga rasa amannya sendiri; dan dengan mengelola industri sedemikian rupa sehingga produksinya bernilai paling tinggi, ia hanya mengejar keuntungannya sendiri, dan dalam hal ini, juga dalam banyak hal lain, ia dituntun oleh tangan tak kelihatan untuk memajukan tujuan yang bukan maksudnya. […]. Dengan mengejar kepentingannya sendiri, ia kerap memajukan kepentingan masyarakat dengan lebih efektif, daripada ketika ia benar-benar bermaksud memajukannya.”

Kesejahteraan umum, demikian Smith, tercipta bukan sebagai hasil yang disengaja, melainkan sebagai dampak alamiah yang tak disengaja dari rantai pengejaran kepentingan-diri setiap orang. Seakan-akan ada ‘rancangan agung’ (grand design) yang bekerja di balik hiruk-pikuk kepentingan-diri. ‘Tangan tak kelihatan’ adalah nama yang diberikan Smith bagi perancang agung itu.

Dengan itu ekonomi, yang sudah sejak lama sekadar bagian kecil dari filsafat moral, mulai menemukan jalan menuju kemandiriannya. Smith sendiri barangkali tak bermaksud mendirikan ilmu khusus. The Wealth of Nations, terlepas dari gemuknya tema-tema ekonomi di dalamnya, ditulis dari posisi seorang filsuf moral (Evensky 2016, 67). Tetapi gagasan Smith tentang kepentingan-diri sebagai penggerak perilaku manusia, tentang tangan tak kelihatan yang menciptakan kesejahteraan umum secara alamiah, tentang perdagangan bebas, ditambah semangat revolusi intelektual abad ke-18, menjadi batu penjuru bagi ilmu ekonomi arus utama yang kini kita kenal.

Kelak, terpisahnya analisis ekonomi dan filsafat moral itu melahirkan masalah-masalah baru, salah satunya, apakah ekonomi itu ilmu positif atau ilmu normatif. Juga di kemudian hari, pemikiran Smith kerap dipakai untuk menjustifikasi agenda besar neoliberalisme: laissez-faire dengan tiga mantranya yang keramat, liberalisasi-privatisasi-deregulasi. Sebaik-baiknya ekonomi adalah ekonomi yang di dalamnya negara tak banyak campur tangan.

Cukup pasti bahwa Smith sendiri tak pernah berpikiran sejauh itu. Baginya, ekonomi tak pernah sekadar ekonomi. Seperti ditulis Emma Rothschild dan Amartya Sen (2006, 319),  “Kehidupan ekonomi, bagi Smith, rumit terjalin dengan seluruh hidup, dengan kehidupan politik, rasa, dan imajinasi. Pemikiran ekonomi saling terkait dengan seluruh pemikiran, dengan refleksi hukum, filsafat, dan moral.” Dalam konteks itu perlu selalu diingat, pembelaan Smith atas prinsip kepentingan-diri, atas kebebasan usaha dan berkompetisi, menyeruak dari perlawanannya terhadap merkantilisme yang merajalela di Inggris abad ke-18.

Tentang penyelewengan itu, Herry-Priyono (2007, 27) menulis, “Seandainya Adam Smith menyaksikan manipulasi ‘ilmiah’ dari gagasan agungnya, ia mungkin akan berkata bahwa analisis ekonomi yang dominan dewasa ini terlalu kerdil mengungkapkan kehidupan ekonomi manusia.”

Perspektif ekonomi versus kesehatan publik barangkali salah satu wujud kekerdilan dan manipulasi itu. Adam Smith tak pernah mengajarkannya. Nana Akufo Addo tak meyakininya. Kita juga tidak.

Editor: L. Bobby Suryo K.

Referensi

Evensky, Jerry. 2016. “The Wealth of Nations” dalam Hanley, Ryan Patrick (ed.). 2016. Adam Smith: His Life, Thought, and Legacy. Princeton, Oxford: Princeton University Press. 67-88.

Herry-Priyono. 2007. “Adam Smith dan Munculnya Ekonomi”. Diskursus Vol. 6, No. 1, April 2007: 1-39.

Rothschild, Emma & Amartya Sen. 2006. “Adam Smith’s Economics” dalam Haakonssen, Knud (ed.). The Cambridge Companion to Adam Smith. New York: Cambridge University Press. 319-365.

Smith, Adam. 1977 [1776]. An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations. Chicago: The University of Chicago Press.

Komentar Anda