BERITAX

Covid akan Meninggalkan Luka yang Dalam di Perekonomian Dunia Bahkan Setelah Pemulihan

Dukungan krisis senilai $ 26 triliun dan tersedianya vaksin memicu pemulihan yang lebih cepat daripada yang diantisipasi banyak orang. Padahal pendidikan yang terhambat, hilangnya lapangan pekerjaan, utang meningkat drastis, dan inequality yang semakin masif meninggalkan bekas luka abadi terutama bagi kebanyakan di negara-negara termiskin.

Menurut Vellore Arthi dari Universitas California yang telah meneliti dampak kesehatan dan ekonomi jangka panjang dari krisis masa lalu, memang sangat mudah merasa lega setelah satu tahun akhirnya segala sesuatu kembali ke jalurnya, tetapi perlu kita waspadai banyak efek secara historis terjadi selama beberapa dekade dan tidak mudah ditangani.

Penurunan produk domestik bruto (PDB) tahun lalu adalah yang terbesar. Para peneliti di Pew Research Center memperhitungkan bahwa kelas menengah global akan mengalami penyusutan untuk pertama kalinya sejak 1990-an. Oxford Economics Ltd., menyoroti Filipina, Peru, Kolombia, dan Spanyol sebagai ekonomi yang paling rentan dalam jangka panjang. Sementara itu, Australia, Jepang, Norwegia, Jerman, dan Swiss dianggap sebaliknya.

Tentunya tidak semua negara akan terpengaruh secara merata. Menurut IMF, negara-negara maju tidak akan terlalu terpengaruh virus di tahun ini, namun negara berpenghasilan rendah dan negara berkembang yang lebih merasakan dampak tersebut. Hal ini kontras dengan yang terjadi di tahun 2009, ketika justru negara-negara kaya yang terpukul lebih keras. Dengan PDB AS tahun depan diperkirakan akan lebih besar daripada sebelum covid-19, apalagi didorong oleh triliunan dollar stimulus, proyeksi IMF menunjukkan hanya sedikit bekas luka sisa dari pandemi terhadap ekonomi No.1 dunia itu.

Bank Dunia memperingatkan dalam laporannya di Januari tentang “a decade of global growth disappointments” kecuali tindakan korektif diambil. Diperkirakan output global 5% lebih rendah pada tahun 2025 daripada tren pra-pandemi dan bahwa tingkat pertumbuhan di mana inflasi akan turun di bawah 2% dalam dekade berikutnya, yang telah turun menjadi 2,5% pada tahun 2000-an dari 3,3% pada dekade sebelumnya.

Menurut para ahli, jika kebijakan tepat diambil, kita tidak perlu menunggu satu dekade. Apalagi, kebijakan tersebut berkaitan dengan pemberian kembali tenaga kerja dan memberikan jaring pengaman kepada yang paling terpukul krisis. Salah satu upayanya adalah mendorong kebijakan yang menciptakan insentif bagi bisnis untuk berinovasi dan berinvestasi, khususnya dalam perubahan iklim. Bank sentral dan sebagian besar pemerintah sudah memberi isyarat bahwa stimulus akan terus dijalankan.

Negara-negara yang dengan cepat mengendalikan virus mengirimkan peringatan tentang jalan yang tidak rata di depan. Setelah awalnya mengalami pemulihan (V-shaped recovery), ekonomi New Zealand mengalami kontraksi dalam tiga bulan terakhir tahun 2020 karena absennya turis asing. Sekarang, negara yang secara konsisten menduduki peringkat teratas ketahanan Covid berdasarkan Bloomberg’s Covid resiliency rankings justru menghadapi prospek resesi double-dip.

Sementara itu menurut World Bank, sejarah menunjukkan bahwa lima tahun setelah negara yang mengalami resesi, ekspektasi pertumbuhan jangka panjang 1,5% lebih rendah dibanding negara yang tidak mengalami resesi.

Di sisi lain, krisis telah mempercepat penggunaan robot baik di industri manufaktur maupun di industri jasa karena pekerja dan pelanggan perlu dilindungi dari penyebaran penyakit. Tentunya, jutaan pekerjaan akan terancam. Menurut McKinsey & Co., lebih dari 100 juta orang di 8 ekonomi terbesar di dunia mungkin perlu beralih pekerjaan pada tahun 2030. Mereka yang paling mungkin mengalami kesenjangan keterampilan adalah yang kurang berpendidikan, wanita, etnis minoritas, dan kaum muda.

Semakin lama orang tidak bekerja, semakin banyak keterampilan mereka yang terhenti dalam proses yang dikenal sebagai hysteresis. Bahkan jika pekerjaan tidak hilang, pola kerja telah berubah dan menimbulkan perdebatan tentang bagaimana perubahan tersebut akan berdampak pada upah.

Menurut perhitungan OECD di bulan September, bahkan kerugian yang setara dengan sepertiga tahun bagi siswa yang terkena dampak penutupan ketika pandemi diumumkan dapat mengekang PDB suatu negara selama sisa abad ini. Siswa di kelas 1-12 akan mengalami pendapatan mereka 3% lebih rendah selama hidup mereka, OECD memperingatkan, disini orang miskin dan minoritas yang paling terpukul.

menurut Institute of International Finance, pendanaan untuk pemulihan akan diperumit oleh pinjaman ekstra $24 triliun yang diambil dunia pada tahun 2020, membawa total utang ke level tertinggi sebesar $281 triliun. Bahkan tanpa krisis utang, begitu suku bunga mulai naik, baik pemerintah maupun perusahaan akan berada di bawah tekanan, menurut Mark Zandi, kepala ekonom Moody’s Analytics.

“Ekonomi global akan kembali ke full employment setelah pandemi jauh lebih cepat daripada setelah krisis keuangan,” katanya. “Tapi begitu kembali ke full employment, ekonomi global akan terjebak dalam kecepatan yang lebih rendah daripada sebelum pandemi.”

Sumber: Bloomberg, 18 April 2021 | Oleh Enda Curran and Simon Kennedy

Komentar Anda