CITAX H1

Gagal Mungut Pajak, Sigit ’Resign’

BERITAMETRO.CO.ID | 04 DESEMBER 2015
21795Ini dongeng dari negeri matahari terbit ceritanya begini: Seppuku adalah tindakan potong perut (harakiri), tindakan ini dilakukan penyebabnya kegagalan dalam tugas, perlu diulangi dikarenakan kegagalan dalam tugas.  Untuk menebus kesalahan,  para samurai (kasatria perang) kemudian melakukan Tindakan harakiri/seppuku. Harakiri dilakukan dengan menggunakan pendang pendek (tanto), ini adalah jalan hidup terhormat. Cerita di atas adalah para samurai atau kesatria perang suku Jepang.
Kini beralih di Indonesia, direktur jenderal pajak Sigit Priadi Pramudito mengundurkan diri dari jabatannya per Rabu (2/12).  Untuk sementara, Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Peraturan dan Penegakan Hukum Pajak Ken Dwijugiasteadi ditunjuk sebagai pelaksana tugas. Menteri keuangan Bambang PS Brodjonegoro melalui layanan pesan singkat (SMS), Selasa, di Jakarta, menyatakan sudah menerima surat pengunduran diri Sigit, Selasa pagi. Alasannya, realisasi penerimaan pajak jauh dari target.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pajak, penerimaan pajak hingga 27 November sebesar Rp 806 triliun atau 64,75 persen. Dengan demikian, realisasi terhadap target kurang Rp 438,72 triliun.Sebelum ada konfirmasi dari Bambang tentang pengunduran dirinya, Sigit pada wartawan, Selasa sore (1/12), menyebutkan akan mundur jika hingga akhir 2015 penerimaan pajak kurang dari 85 persen target. Ia beralasan, dirinya menjadi dirjen pajak bukan karena ditugaskan, melainkan melamar melalui lelang terbuka jabatan. Oleh sebab itu, pengunduran diri merupakan bentuk tanggung jawab saat target tidak tercapai.
Bambang, melalui keputusan menteri, menunjuk Ken sebagai Pelaksana Tugas Dirjen Pajak. Ken pernah menjadi Kepala Kantor Wilayah Pajak Kalimantan Timur dan Jawa Timur. Dirjen pajak definitif akan dipilih melalui panitia seleksi dan tim penilai akhir. Namun, Bambang tidak merinci lebih lanjut mengenai kapan panitia seleksi mulai bekerja dan dirjen pajak yang baru ditargetkan terpilih. Direkut Eksekutif Center of Indonesia Taxation Analysis Yustinus Prastowo mengapresiasi sikap Sigit. “Saya apresiasi. Ini seperti oase ketika orang berebut jabatan. Jarang orang menyatakan tidak sanggup dan mau mundur. Yang ada malah mati-matian mempertahankan jabatannya,” katanya.
Untuk pemilihan dirjen pajak definitif yang baru nanti, Prastowo mengimbau pemerintah untuk memilih dari pejabat internasional Ditjen Pajak yang juga memiliki kemampuan komunikasi politik. “Secara prinsip teguh, tetapi luwes dalam berinteraksi dengan siapapun,” ujarnya. Sebelumnya, dalam seleksi calon dirjen pajak, Sigit yang pernah menjabat Kepala Kantor Wilayah Ditjen Pajak Wajib Pajak Besar Jakarta adalah salah satu dari empat nama yang diajukan Menteri Keuangan kepada Presiden. Tiga nama lain yang diperoleh dari hasil seleksi adalah Ken Dwijugitaesdi, Suryo Utomo, dan Catur Rini Widoarsi.
Pengunduran diri Sigit Priadi Pramudito memang diapresiasi banyak pihak termasuk Menko Perekonomian Darmin Nasution. Mantan Dirjen Pajak ini mengatakan, ekonomi melambat, penerimaan pajak juga melambat. Pada saat yang sama target pajak yang ditetapkan tinggi, Sigit mundur karena merasa bertanggung jawab dengan penerimaan pajak yang meleset. Menurut Darmin kita harus menghormati keputusan Sigit mengundurkan diri, ulasnya.
Sigit Priadi Pramudito mungkin merasa sebagai kesatria perang, meski bukan para samurai tapi kesatria perang dalam hal mengumpulkan pajak. Sedangkan target yang direncanakan untuk tahun ini Rp 1.294 triliun. Sedangkan sampai akhir November baru masuk Rp 806 triliun atau 64,75%  realisasi terhadap target kurang Rp 438,72 triliun. Karena  merasa harus bertanggung jawab maka dia lalu meletakkan jabatan mundur. Inilah jalan hidup terhormat seorang yang bernama Sigit Priadi Pramudito. Untuk bertanggung jawab secara moral pada jabatannya dia resign. (*)
Komentar Anda