CITAX H1

Dirjen Pajak Mundur, Diduga Ada Nuansa Politis

SUARAMERDEKA.COM | 03 DESEMBER 2015

SEMARANG, suaramerdeka.com – Pengunduran diri Sigit Priadi Pramudito dari jabatan Dirjen Pajak perlu diapresiasi. Demikian disampaikan pengamat perpajakan Yustinus Prastowo. “Karena jarang sekali, pejabat yang tidak mencapai target, lalu mengundurkan diri,” ungkap Yustinus seperti dilansir dari Radio Idola, Kamis (3/12).

Diakuinya, sejak beberapa tahun yang lalu, target pajak tidak terpenuhi, dan hanya tercapai di tahun 2008. “Biasanya, target penerimaan pajak secara alami mengalami kenaikan per tahunnya sebesar 10 – 12 persen. Sedangkan pada tahun ini, kenaikan penerimaan pajak sekitar 30 persen, naik dua kali lipat,” jelasnya.

Rasio pajak di Indonesia ditambahkannya masih rendah, yaitu di bawah Thailand, Vietnam, dan Singapura. “Tax ratio kita sekitar 12 persen. Sementara Prrsiden Joko Widodo menargetkan tax ratio tahun 2019 sebesar 16 persen,” demikian diungkapkan Yustinus.

Secara alamiah, pertumbuhan pajak di Indonesia sebesar 15 persen. “Kenaikan pajak kita terlalu tinggi sekitar 150 Triliun. Seharusnya, target pajak tahun ini 1,150 T. Sementara, tahun depan, ternyata target pajak naik berkisar 5 persen dari target pajak tahun ini,” imbuhnya.

Dikatakannya, pengunduran diri Sigit Priadi bisa juga memunculkan asumsi adanya nuansa politis. “Beberapa kali ada kebijakan yang tidak sama antara Dirjen Pajak dengan DPR dan Menkeu. Mungkin ini juga yang membuat Sigit mundur dari jabatannya,” tandas Yustinus.

Komentar Anda