Opini

Langkah Maju Reformasi Perpajakan: Membangun Core Tax System

Langkah Maju Reformasi Perpajakan: Membangun Core Tax System
Nanda Alfiyandi

Revolusi Industri 4.0 ditandai oleh pesatnya perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi. Selain diharapkan dapat mengubah pola perilaku manusia, era baru ini juga diharapkan dapat mengubah sistem berbisnis dalam perindustrian di dunia. Langkah yang harus dilakukan adalah dengan melakukan otomatisasi dan digitalisasi. Proses digitalisasi dalam dunia industri akan memberikan dampak signifikan bagi transformasi sebuah perusahaan. Keterlibatan teknologi yang sudah semakin canggih akan membuat proses bisnis menjadi lebih efektif dan efisien. Peningkatan tren digitalisasi dalam dunia industri menjadi tantangan bagi otoritas pajak untuk ikut serta melakukan reformasi perpajakan dengan melakukan digitalisasi dalam sistem perpajakannya. Salah satu rencana Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang sudah diwacanakan untuk diimplementasikan adalah dengan membuat Sistem Inti Perpajakan atau Core Tax System (COTS) yang terintegrasi. Implementasi COTS sejalan dengan salah satu dari lima pilar Reformasi Perpajakan Jilid Ketiga, yaitu berfokus pada teknologi informasi dan basis data sebagai tulang punggung Reformasi Perpajakan.

Belum lama ini media digemparkan dengan wacana serius DJP mengenai pembaruan Sistem Informasi perpajakan menjadi terintegrasi, yaitu dengan implementasi COTS. Tak tanggung-tanggung, penganggaran sistem informasi perpajakan ini kurang lebih sebesar 2,04 triliun rupiah. COTS merupakan salah satu produk yang dicanangkan oleh pemerintah guna menjalankan Reformasi Perpajakan Jilid Ketiga berbentuk sistem teknologi informasi yang secara terpadu membantu pelaksanaan tugas DJP melalui otomatisasi proses bisnis, mulai dari proses pendaftaran wajib pajak, pemrosesan surat pemberitahuan dan dokumen perpajakan lainnya, pemrosesan pembayaran pajak, dukungan pemeriksaan dan penagihan, hingga fungsi taxpayer accounting. Pembaruan Sistem Informasi Perpajakan menjadi COTS yang terintegrasi dimaksudkan untuk menciptakan sistem administrasi perpajakan yang lebih efektif dan efisien, serta memiliki fleksibilitas yang tinggi jika dibandingkan dengan sistem informasi perpajakan yang saat ini digunakan (Sistem Informasi DJP; selanjutnya SIDJP). Pembaruan sistem administrasi perpajakan yang dimaksud telah diterbitkan payung hukumnya berupa Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2018 tentang Pembaruan Sistem Administrasi Perpajakan.

Proses pengembangan Sistem Informasi Perpajakan menjadi COTS dibutuhkan karena SIDJP belum mampu memenuhi berbagai fungsi penting, seperti belum adanya sarana untuk melaksanakan pemeriksaan dan penagihan serta fungsi sistem akuntansi yang terintegrasi dengan SIDJP. Menurut hasil studi International Monetary Fund (IMF), diketahui bahwa Reformasi Perpajakan akan meningkatkan tax ratio sebesar 5%, di mana 3,5% berasal dari perbaikan regulasi perpajakan dan 1,5% lainnya berasal dari Pembaruan Sistem Informasi Perpajakan.

Digitalisasi Sistem Perpajakan Menurut OECD

Menyikapi tantangan perpajakan di era ekonomi digital, negara-negara yang tergabung dalam OECD dan G20 maupun negara-negara lain membuat konsensus global yang tertuang dalam The Task Force on the Digital Economy (TFDE). Konsensus ini berfokus pada pencarian solusi atas tantangan perpajakan ekonomi digital berupa base erosion and profit shifting. Salah satu solusi yang ditawarkan dalam TFDE adalah dengan menbuat sistem perpajakan berbasis online platform, mengikuti perubahan proses bisnis dari tradisional menjadi modern. Dulu, kegiatan jual-beli dilakukan di pasar, tetapi saat ini proses jual-beli dengan online platform sudah sangat berkembang pesat.

Langkah peningkatan sistem perpajakan berbasis online platform yang dijelaskan dalam TFDE adalah dengan memperbaiki pengetahuan Wajib Pajak mengenai Perpajakan dan sistem self-reporting. Selain itu perlu juga mengumpulkan dan mengintegrasikan data data transaksi yang difasilitasi dalam sebuah platform. Perubahan sistem perpajakan menjadi online platform dapat membantu dan sejalan dengan cita-cita Automatic Exchange of Information (AEoI).

Core Tax System yang Ideal di Indonesia

Kondisi sistem informasi perpajakan yang saat ini digunakan oleh DJP untuk melakukan proses administrasi perpajakan sudah tidak relevan dengan kondisi industri yang sedang gencar melakukan digitalisasi. Saat ini, SIDJP belum meng-cover setiap fungsi administrasi DJP. SIDJP memiliki fitur-fitur antara lain pembuatan NPWP, e-filling untuk melaporkan SPT, e-billing untuk pembayaran pajak. Masih ada fungsi perpajakan yang sangat penting yang belum ter-cover, yaitu fungsi taxpayer accounting dan fungsi pemeriksaan. Sistem yang masih ada masih bersifat statis, belum ada integrasi antar-fungsi pajak yang lain.

Taxpayer accounting memiliki fungsi yang sangat penting. Dalam proses pelaporan SPT, Wajib Pajak diwajibkan melampirkan laporan keuangannya dalam pembukuan atau pencatatan, sementara SIDJP masih belum terintegrasi dengan proses-proses perpajakan lainnya dalam urusan laporan keuangan setiap Wajib Pajak. Jika COTS bisa mengintegrasikan SPT dan laporan keuangan yang sudah dibuat oleh Wajib Pajak dengan proses pemeriksaan pajak bahkan proses keberatan pajak, pemeriksa bisa secara langsung memiliki data data keuangan dari WP tanpa harus meminta lagi. Agak ganjil bahwa, misalnya, Pemeriksa ingin menyengketakan Wajib Pajak tetapi masih meminta-minta data dari Wajib Pajak. Jika saja sudah ada integrasi antara data akuntansi Wajib Pajak, proses perpajakan selanjutnya seperti proses pemeriksaan dan proses keberatan akan berjalan lebih efektif dan efisien. Proses pemeriksaan pun akan lebih mudah, yakni dengan melakukan tracking atas transaksi-transaksi yang disengketakan.

Tahapan Implementasi Core Tax System di Indonesia

COTS yang terintegrasi sangat dibutuhkan bagi sistem informasi perpajakan di Indonesia. Idealnya, implementasi COTS dimulai dari tahap perencanaan pembangunan sistem COTS sampai tahap evaluasi, ketika sistem informasi perpajakan ini sudah dijalankan nanti (menurut rencana akan diimplementasikan pada 2023).

Pertama, hal yang penting untuk mencapai COTS yang ideal adalah dengan melakukan perencanaan yang matang untuk proses pembangunan sistem tersebut, dimulai dari pemilihan konsultan dan tenaga ahli dalam hal bidding dan lelang/tender perusahaan pengembang sistem. Proses penentuan perusahaan pengembang harus dijalankan oleh pihak profesional dan hasil lelang pengembang harus tepat sasaran. Proses ini sangat penting, mengingat perusahaan pengembang sistem merupakan ujung tombak yang akan menentukan bagaimana bentuk dari COTS tersebut.

Kedua, pelaksanaan pembuatan COTS harus dikelola secara tertata dan profesional. Akan lebih baik jika dilakukan proses Quality Control pada setiap tahap pengerjaan sistem, baik dari segi perangkat lunak maupun perangkat keras dari sistem tersebut.

Ketiga, pada saat sistem tersebut mulai diterapkan, harus dilakukan sinkronisasi antara SIDJP yang ada saat ini ke COTS yang baru. Perlu juga sosialisasi yang merata kepada Wajib Pajak, agar Wajib Pajak dapat beradaptasi dengan sistem tersebut.

Terakhir, pengawasan pemerintah, para stakeholders, dan Wajib Pajak juga penting bagi implementasi COTS. Pengawasan akan terus meningkatkan performa dan kinerja COTS. Pemerintah pun harus terbuka terhadap masukan masukan, sehingga secara dinamis dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas COTS.

Secara substansi, COTS harus mencakup setiap proses bisnis DJP. Mulai dari fitur untuk mendaftarkan NPWP bagi Wajib Pajak orang pribadi dan Pengukuhan PKP bagi Wajib Pajak badan, membuat Surat Pemberitahuan dan dokumen perpajakan lainnya, menjalankan proses pemeriksaan dan penagihan pajak yang dapat saling mengintegrasikan data antara Fiskus dan Wajib Pajak, pembayaran pajak, serta yang terpenting adalah fitur untuk fungsi taxpayer accounting. Fitur-fitur tersebut harus saling terintegrasi. Dengan demikian, apabila fiskus ingin melakukan pemeriksaan atas WP, fiskus akan dapat dengan mudah menemukan data-datanya.

Artikel ini memenangkan juara harapan dalam Lomba Menulis Artikel “Pajak: Sumpah Pemuda untuk Hari Ini”.

Editor: Tim CITA

Komentar Anda