AKURAT.CO Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo menilai terjadi perbaikan yang signifikan dalam penerimaan negara. Hal tersebut dilihat dari sepanjang semester I tahun 2018 pemerintah berhasil mengumpulkan penerimaan pajak sebesar Rp581,54 triliun atau 40,84 persen dari target.
“Terkait defisit APBN, sepanjang semester I tahun 2018 pemerintah berhasil mengumpulkan penerimaan pajak sebesar Rp581,54 triliun atau 40,84 persen dari target. Angka ini menunjukan perbaikan yang signifikan dalam penerimaan negara, dibanding realisasi APBNP 2017 sebesar 39,75 persen,” katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (2/8).
Dengan perbaikan penerimaan tersebut, Yustinus memproyeksikan penerimaan pajak tahun ini mampu mencapai 94 persen. Dengan demikian pernerimaan pajak dalam APBN 2018 naik 20 persen dari realisasi tahun 2017 sehingga defisit APBN 2018 juga akan mengalami perbaikan.
“Melihat perbaikan kinerja semua jenis pajak pada semester I 2018, kami memproyeksikan bahwa pemerintah mampu mencapai 94 persen target penerimaan pajak dalam APBN 2018. Sebuah pencapaian yang luar biasa melihat target penerimaan pajak dalam APBN 2018 naik lebih dari 20 persen dari realisasi 2017,” ujarnya.
Selain itu, menurut Yustinus akan menjadi salah kaprah jika perbaikan-perbaikan dalam APBN 2018 tersebut menjadi alasan lemahnya rupiah. Sebab, jika defisit APBN disalahkan, seharusnya rupiah jauh lebih tertekan pada tahun-tahun sebelumnya karena defisit APBN tahun sebelumnya jauh lebih besar dibandingkan proyeksi tahun ini.
“Dengan realitas perbaikan penerimaan pajak dan defisit APBN 2018, menjadi salah sasaran menjadikan defisit APBNsebagai kambing hitam pelemahan rupiah,” tandasnya.
Sementara dari sisi pengeluaran negara, pemerintah telah meningkatkan kualitas belanja. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah meningkatkan kualitas belanja negara dengan meningkatkan belanja produktif seperti infrastruktur, pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, dan lainnya.
“Sebagai hasilnya, meski pertumbuhan ekonomi cenderung stagnan dalam beberapa tahun terakhir, tingkat kemiskinan turun untuk pertama kalinya di bawah 10 persen. Di saat yang sama, ketimpangan yang direpresentasikan oleh gini ratio juga turun menjadi 0,389,” tambahnya.[]
Sumber: AKURAT.CO, 2 Agustus 2018

