Internasional

Tantangan Lawas-Baru Utang Negara

Salah satu dari banyak warisan kompleks pandemi COVID-19 adalah tingginya tingkat utang sektor publik di sebagian besar negara. Hal ini mencerminkan peningkatan pengeluaran pemerintah untuk mengatasi krisis, serta jatuhnya pendapatan pajak karena ekonomi meledak pada tahun 2020. Akibatnya, banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah berisiko mengalami kesulitan utang negara. IMF dan berbagai negara lain sudah berupaya untuk dapat menghadapinya seperti dengan restrukturisasi utang.

Tidak semua negara berkembang perlu merestrukturisasi utang mereka. Faktanya, salah satu fitur penting dari krisis saat ini adalah bahwa aliran modal swasta ke ekonomi ini kembali dengan cepat. Namun, menurut sebuah analisis, dari 120 negara berkembang 90% merupakan risiko tinggi dan spekulatif, dan lebih dari setengah dari semua pembayaran utang jatuh tempo pada 2021-22.

Pembuat kebijakan internasional harus mengejar dua tujuan yang harus saling memperkuat. Mereka perlu meningkatkan partisipasi kreditur swasta secara penuh, adil, dan transparan dalam reprofiling dan restrukturisasi utang bila diperlukan. Dan mereka harus memberikan dukungan keuangan tambahan yang memungkinkan negara-negara berkembang untuk mempertahankan investasi mereka dalam pembangunan berkelanjutan.

Namun, mekanisme restrukturisasi utang harus dilengkapi dengan pengaturan arus modal yang memadai. Ketika dunia berupaya memetakan pemulihan ekonomi dari krisis COVID-19 pada tahun 2021, masalah terkait utang ini harus menjadi pusat agenda kerja sama global.

Sumber: Project Syndicate, 10 Agustus 2021 | Oleh: José Antonio Ocampo

Komentar Anda