Internasional

The Pandemic has Widened the Wealth Gap. Should Central Banks be Blamed?

Krisis keuangan global pada 2007-2009 memecah belah secara sosial dan merusak secara ekonomi. Krisis tersebut memiliki kekuatan untuk menyebarkan kesengsaraan finansial di antara orang kaya maupun orang miskin, meskipun pangsa kekayaan global yang dipegang oleh “satu persen” teratas mengalami penurunan pada 2008. Di tengah semua kesengsaraan dan kematian, jumlah jutawan meningkat tahun lalu sebesar 5,2 juta menjadi lebih dari 56 juta, menurut Laporan Kekayaan Global yang diterbitkan oleh Credit Suisse. Kalangan “satu persen” meningkatkan bagian kekayaan mereka menjadi 45%, persentase poin yang lebih tinggi dari tahun 2019.

Pelayanan terbaik bank sentral memerangi ketidaksetaraan, yaitu mengekang inflasi, penurunan dan kenaikan keuangan. Kebijakan moneter akan lebih sulit untuk melawan kekuatan siklus jika terlalu sibuk melawan kekuatan struktural seperti teknologi dan perdagangan. Perjuangan kuno melawan inflasi, resesi, dan spekulasi belum tentu inegalitarian. Inflasi yang tinggi seringkali merupakan pajak regresif, merugikan mereka yang paling bergantung pada uang tunai.

Memerangi keterpurukan juga merupakan upaya egaliter. Resesi memperburuk ketidaksetaraan dan ketidaksetaraan memperburuk resesi, dalam siklus “amplifikasi sesat”. Masyarakat yang sangat terpecah menderita penurunan output yang lebih besar di masa-masa sulit dan merespons lebih lambat terkait pelonggaran moneter. Oleh karena itu, bank sentral tidak perlu memberikan serangkaian tujuan baru yang lebih egaliter.

The Fed, tahun lalu mengadopsi interpretasi yang kurang menggembirakan tentang target inflasinya. Efek samping dari pendekatan ini adalah ketimpangan pendapatan yang lebih rendah. Untuk memandu pemikiran mereka, bank sentral beralih ke model ekonomi yang mencakup rumah tangga “heterogen”, sebuah langkah di luar model representative-agent New Keynesian (RANK).

Berdasarkan catatan Bank for International Settlements (BIS), bank sentral yang yang berperan sebagaimana biasanya, menghadapi kecanggungan trade-off, mengadu ketimpangan pendapatan dengan ketimpangan kekayaan dan ketimpangan saat ini versus ketimpangan masa yang akan datang. Keberanian terkait pelonggaran moneter dapat menyebabkan distribusi pendapatan yang lebih seragam. Hal tersebut dapat meningkatkan harga aset dan ketimpangan kekayaan, setidaknya dalam jangka pendek. Selain itu, kebijakan moneter yang ekspansif, menurut BIS, dapat berkontribusi pada ekses keuangan yang dapat mengakibatkan resesi yang lebih dalam dan berlarut-larut di masa depan, yang pada akhirnya akan memperburuk pemerataan pendapatan.

Jawaban BIS adalah, untuk memperluas kebijakan yang ditanggung, termasuk regulasi keuangan yang lebih baik untuk mengekang ekses spekulatif dan kebijakan fiskal yang lebih responsif. Ben Bernanke, mantan ketua Fed, mengatakan “Jika pembuat kebijakan fiskal mengambil lebih banyak tanggung jawab untuk mempromosikan pemulihan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, kebijakan moneter bisa menjadi kurang agresif”.

Sumber: The Economist, 10 Juli 2021

Komentar Anda