Internasional

The G-7 Deal to Tax Corporations More is Good Climate Policy

Beberapa kepala negara maju di dunia akan bertemu di Cornwall, Inggris. Dari pertemuan tingkat menteri menjelang pertemuan G7, mereka sudah memiliki gambaran yang baik tentang pemikiran G-7 terhadap perubahan iklim.

  1. Para Menteri Luar Negeri “mencatat” dampak perubahan iklim pada populasi paling rentan sedunia.
  2. Para Menteri Kesehatan “mengakui” hubungan antara kesehatan, lingkungan dan perubahan iklim.
  3. Para Menteri Perdagangan “setuju” dalam menangani perubahan iklim membutuhkan koordinasi.
  4. Para Menteri Keuangan “mendukung” mandat pengungkapan keuangan terkait iklim dan “menegaskan kembali” tujuan untuk memobilisasi $100 miliar per tahun pendanaan iklim bagi negara-negara berkembang.
  5. Para Menteri Lingkungan “berkomitmen” untuk beralih dari batu bara dan menghentikan pembiayaan internasional untuk pembangkit listrik tenaga batu bara.

Kesepakatan untuk menetapkan tarif pajak perusahaan minimum global merupakan langkah dalam mengatasi hilangnya lebih dari $400 miliar ke dalam tax haven. Jika kebijakan tersebut diadopsi secara global, hal itu dapat membantu mengisi kas pemerintah yang sangat dibutuhkan oleh banyak negara, terutama negara miskin.

Dengan 132 negara yang akan/telah menetapkan net-zero goal, menurut London School of Economics, akan ada kemungkinan besar bahwa sebagian dari uang itu pada akhirnya akan mendukung kebijakan iklim. Negara-negara G-7 saat ini mengeluarkan lebih banyak karbon dioksida dibandingkan ketika mereka dibentuk pada tahun 1975.

Beban Karbon

“Sehubungan dengan meningkatnya konsentrasi karbon dioksida di atmosfer, semua KTT G-7 telah gagal,” kata John Kirton, seorang profesor ilmu politik di Universitas Toronto yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun mempelajari upaya kelompok tersebut terhadap iklim. Namun, dia mengatakan bahwa pada definisi yang lebih sempit tentang kemajuan dalam tahun ke tahun, G-7 dapat dilihat sebagai salah satu kelompok multilateral yang paling maju dalam hal iklim.

Kelompok yang paling pertama, communiqué, pada tahun 1975 membicarakan tentang pengurangan “ketergantungan kita pada energi impor melalui konservasi dan pengembangan sumber-sumber alternatif.”Ketika krisis minyak kedua menyebabkan kekacauan dalam ekonomi global, para anggota communiqué memutuskan bahwa “kita perlu memperluas sumber energi alternatif, terutama yang akan membantu mencegah polusi lebih lanjut, khususnya peningkatan karbon dioksida dan sulfur oksida di atmosfer. .”

Dorongan Iklim

Negara-negara kaya yang membentuk G-7 telah meningkatkan fokus mereka pada perubahan iklim dalam beberapa tahun terakhir. Data yang dikumpulkan oleh Brittaney Warren dari University of Toronto mendukung tesis tersebut. Perubahan iklim menyentuh segalanya mulai dari infrastruktur hingga kebiasaan sehari-hari. Dari bank sentral hingga keamanan nasional. Itulah salah satu alasan mengapa bukan hanya Menteri Lingkungan G-7 yang membicarakan masalah ini.

Sumber: Bloomberg Green, 8 Juni 2021 |  Akshat Rathi

Komentar Anda