… Di sisi lain, Pengamat Perpajakan dari Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Fajry Akbar menilai anggapan bahwa kelas menengah menjadi kelompok yang paling banyak berkontribusi terhadap penerimaan pajak perlu dilihat secara lebih proporsional.
Menurutnya, kontribusi besar kelas menengah terhadap penerimaan PPN selama ini tidak terlepas dari besarnya jumlah masyarakat yang masuk dalam kategori kelas menengah maupun calon kelas menengah (aspiring middle-class).
Dengan kata lain, besarnya kontribusi tersebut merupakan gambaran secara agregat, bukan berarti setiap individu kelas menengah menanggung beban PPN paling besar.
Fajry menjelaskan, berdasarkan studi menggunakan metode Commitment to Equity (CEQ), proporsi beban PPN terhadap pendapatan antara kelompok kelas menengah dan kelas atas sebenarnya tidak jauh berbeda.
Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah kebijakan pemerintah yang memberikan fasilitas pembebasan PPN terhadap sejumlah barang kebutuhan pokok.
Menurutnya, fasilitas tersebut turut menjaga agar beban PPN tidak semakin besar bagi kelompok berpendapatan rendah.
“kalau fasilitas pembebasan PPN itu dihapuskan maka rasio beban PPN terhadap pendapatan kelompok bawah menjadi yang paling tinggi,” katanya.
Sementara itu, untuk Pajak Penghasilan (PPh) orang pribadi, Fajry menilai karakteristiknya berbeda dengan PPN.
Mengacu pada berbagai studi di negara lain, PPh orang pribadi cenderung memiliki sifat lebih progresif dibandingkan pajak konsumsi.
Artinya, kelompok berpendapatan tinggi menanggung pembayaran PPh orang pribadi lebih besar dibandingkan kelompok menengah.
Baca selengkapnya di Kontan

