Opini

DJP Bisa, Indonesia Sejahtera!

03 September 2016

DJP Bisa, Indonesia Sejahtera!

Hiruk pikuk tax amnesty rasanya sudah berlalu. Meski menyisakan enam bulan lagi, seolah program ini sudah usai dengan hasil manis. Tentu saja pandangan ini tak sepenuhnya benar, tapi saya mencoba memahami tiga bulan yang sungguh sulit, berliku, penuh pacuan yang mendebarkan, dengan harapan menjadi September ceria.

Beberapa bulan lalu ketika berketetapan hati mendukung program tax amnesty dengan beberapa syarat dan catatan, saya mengambil satu risiko besar karena studi komparatif pelaksanaan program amnesti pajak di berbagai negara menunjukkan lebih banyak yang gagal ketimbang yang berhasil. Dan sebagian besar yang gagal lantaran administrasi pajak yang buruk, sistem politik oligarkis, dan tingginya ekonomi informal – cukup mirip dengan situasi dan kondisi Indonesia.

Tapi saya mencoba peruntungan bukan dari olah pikir semata melainkan juga dari intuisi, yang saya olah sebagai hasil pergumulan batin dan perjumpaan konkret dengan begitu banyak pelaku selama ini – pejabat negara, politisi, pegawai pajak, konsultan pajak, pengusaha, pelaku UKM, akademisi, aktivis NGO, mahasiswa, agamawan, dll. Saya merekam derap, gerak, denyut, dan laju para pelaku, pro kontra, nasehat, peringatan, hingga harapan. Campur aduk bak pasar jajanan pasar.

Saya paham program ini dilematis, terutama menimbang beberapa ekses dan risiko yang tak kecil, terlebih ini adalah Indonesia yang kerap menggampangkan perencanaan dan implementasi, namun tak jarang dinaungi kemujuran dan nasib baik. Satu hal yang saya yakini perlu dan penting adalah bagaimana saya dapat berkontribusi membangun kembali kepercayaan kepada Ditjen Pajak (DJP) yang sempat runtuh menjadi puing dan serpihan, gegara kasus Gayus, yang telah menjadi stigma dan trauma.

Saya adalah pegawai pajak ketika Kasus Gayus meledak, ikut malu, prihatin, tapi juga berusaha menjelaskan ke publik mengenai duduk perkara yang sebenarnya. Namun apa daya, dalam cuaca persepsi publik yang dipompa epistemologi “kebenaran adalah apa yang diucapkan berulang-ulang”, saya menduga ada upaya sistematis meremukkan dan melemahkan DJP, dan klarifikasi adalah kesia-siaan.

Ketika Sri Mulyani pergi, tak selang berapa lama saya pun meninggalkan rumah yang mendidik, merawat, membesarkan saya, dengan satu cita-cita, saya ingin membalas kebaikan organisasi ini dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan politik dan publik. Keyakinan yang saya rawat dan saya jalani dengan tekun, hari ke hari, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun – bersama perahu sejarah.

Saya menunggu hadirnya momentum, atau dalam terminologi politik kerap disebut “kejadian” (event), yang monumental dan sepadan untuk membangkitkan dan memulihkan kembali moral dan eksistensi DJP. Dan saya meyakini tax amnesty – dengan segala pertaruhannya – jika berhasil dapat memulihkan moral dan kepercayaan pada institusi DJP.

Meski di awal sempat terseok dan membuat frustrasi, pelan namun pasti militansi terbentuk. Saya menjumpai lagi pegawai-pegawai pajak militan tanpa pamrih, yang berdaya juang tinggi, rela berkorban dan bekerja keras. Inilah bibit dan benih yang ditabur dan dimiliki sejak 10-15 tahun lalu, namun terhimpit ilalang, semak liar, dan tanah tandus.

Kini saya menyaksikan dengan haru, bahwa DJP berhasil merebut kembali kepercayaan publik itu! Tentu saja ini masih sangat awal, namun awal yang sangat baik. Tax Amnesty telah menjadi kejadian yang memampukan institusi yang saya cintai ini bangkit, pulih, siuman, dan menyadari kembali jatidirinya. Saya kembali merasa menjadi bagian perahu besar ini, hingga berbulan-bulan ikut larut berletih lelah, mengawal proses politik, mengkritik di ruang publik, berkeliling Indonesia meyakinkan banyak orang, menuai kritik, hujatan, dan fitnah – yang menjadi pupuk yang menyuburkan.

Tentu saja perjalanan masih panjang dan pekerjaan rumah masih bertumpuk. Bolehlah sejenak kita bernostalgia, tentang masa-masa mendebarkan merayakan pencapaian target penerimaan. Masa kita intim sebagai keluarga, lengkap dengan orangtua, kerabat, handai taulan, taman bermain, dan kasih sayang.

Kita merindukan semua itu, tapi masa depan harus kita sambut. Puing-puing ingatan itu menempa dan mengingatkan kita, tentang asal usul dan maksud kita dipanggil, lalu menuntun arah ke mana kita menuju. Kini teman-teman di DJP membuktikan bahwa kesempatan kedua untuk kembali dipercaya telah dimanfaatkan dengan baik. Kita – mohon diperkenankan saya mendaku sebagai bagian keluarga besar ini – boleh menerima tantangan dan kepercayaan lebih besar, merenda masa depan Indonesia melalui pajak.

Para pegawai pajak telah menorehkan catatan dalam sejarah perjalanan Indonesia meraih impiannya. Bermimpilah kawan, mimpi tentang Indonesia sejahtera, di mana kakimu ikut membangun pondasinya dan tanganmu melukis wajahnya. Banggalah dengan apa yang telah dan sedang kalian lakukan, demi Indonesia. DJP bisa, Indonesia sejahtera!

Komentar Anda