CITAX Headline

Pelemahan Rupiah Bakal Memengaruhi Penerimaan Pajak

JAKARTA– Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo menilai, pelemahan rupiah terhadap dolas AS akan berpengaruh ke perhitungan pajak yang akan dibayarkan, sehingga perlu diwaspadai utang swasta.

“Kalau dolar menguat, utangnya jadi besar, lalu labanya turun, ini hatihati. Debt to equity ratio (DER) bisa bengkak. Bisa besar utangnya. Pajak harus ditanya mitigasinya apa walau ini jangka pendek,” kata Yustinus, di Jakarta, Jumat (27/4).

Saat ini, kata dia, pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan No. 169/ PMK.010/2015 tentang Penentuan Besarnya Perbandingan Antara Utang dan Modal Perusahaan Untuk Keperluan Penghitungan Pajak Penghasilan, menerapkan ketentuan pembatasan rasio utang terhadap modal (DER) 4:1 atau lebih longgar dari patokan terdahulu 3:1.

“Lewat dari 4:1 akan dikoreksi oleh Ditjen Pajak. Misalnya DER 6:1, yang 2:1-nya kan nggak bisa dibebankan, terkoreksi otomatis, laba saya akan turun,” jelasnya.

Di sisi lain, ia menjelaskan pelemahan rupiah dapat memberikan dampak positif, seperti penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang bisa lebih tinggi. Sebab, saat rupiah melemah, eksportir akan diuntungkan karena konversi ke rupiah lebih tinggi.

“Sebaliknya, kalau impornya tinggi, tekor PPN kita karena restitusinya tinggi,” ujarnya.

Menurut Yustinus, pemerintah perlu segera melakukan mitigas terkait terus terkoreksinya rupiah terhadap dolar AS karena hal tersebut akan berpengaruh juga terhadap penghitungan PPh dan PPN.

“Salah satu yang mempengaruhi pelemahan rupiah, selain faktor AS, untuk bulan-bulan ini permintaan dolar tinggi, bayar dividen, dan jatuh tempo utang”, jelas dia. (try/ark)

Sumber: BERITASATU.COM, 30 April 2018

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *