CITAX

Target Penerimaan Pajak 2017 Naik 14 Persen Dinilai Bisa Tercapai

KATADATA.COM  | 18 Agustus 2016

Target Penerimaan Pajak 2017 Naik 14 Persen Dinilai Bisa Tercapai

“Extra effort lima persen itu masih oke, dengan adanya peningkatan kenaikan setoran pasca tax amnesty.”

Pemerintah menetapkan target penerimaan pajak tahun depan lebih tinggi 14 persen dibandingkan perkiraan realisasi penerimaan pajak tahun ini. Target tersebut dinilai lebih realistis dan dapat tercapai.
Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2017, pemerintah memasang target penerimaan pajak sebesar Rp 1.304,7 triliun. Nilainya lebih rendah 4 persen dari target penerimaan pajak dalam APBN Perubahan 2016 sebesar Rp 1.355,2 triliun. (Baca: Orang Pribadi Penyumbang Tebusan Tax Amnesty Terbesar)
Namun, sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan, realisasi penerimaan pajak hingga akhir tahun nanti sekitar Rp 1.136,2 triliun. Artinya, kekurangan realisasi dari target penerimaan (shortfall) sebesar 16 persen atau Rp 219 triliun. Jika perkiraan realisasi penerimaan tahun ini dibandingkan dengan target penerimaan tahun depan maka meningkat 14 persen atau senilai Rp 168,5 triliun.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution optimistis target penerimaan pajak 2017 sangat mungkin tercapai. Alasannya, pertumbuhan penerimaan pajak secara alamiah semestinya bisa mencapai 9,3 persen. Perhitungannya adalah akumulasi dari pertumbuhan alamiah berdasarkan asumsi pertumbuhan ekonomi dan inflasi tahun depan masing-masing sebesar 5,3 persen dan empat persen.
Pertumbuhan alamiah itu masih ditambah dengan upaya ekstra yang dilakukan pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak (DJP), yaitu sekitar 5 persen, sehingga target kenaikan pajak 14 persen tahun depan bisa tercapai. “Selisihnya 4-5 persen (dari pertumbuhan alamiah), itu extra effort-nya petugas pajak,” kata Darmin, Selasa lalu (16/8).
Salah satu upaya lebih tersebut bisa melalui tambahan penerimaan pada triwulan terakhir dari kebijakan pengampunan pajak (tax amnesty). Seperti diketahui, kebijakan pengampunan pajak berlangsung sejak 18 Juli lalu hingga 31 Maret tahun depan.
Menurut Direktur Utama Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo, target kenaikan penerimaan pajak tahun depan sebesar 14 persen lebih realistis. Ia membandingkan dengan target tahun ini yang meningkat 29 persen dari realisasi penerimaan pajak pada tahun lalu.
Target pertumbuhan penerimaan pajak sebesar 14 itu juga akan memberi kelonggaran bagi swasta untuk mengembangkan usahanya. Dengan begitu, investasi meningkat dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan 5,3 persen pada 2017. Sedangkan DJP bisa menjadi lebih fokus membenahi sistem untuk jangka menengah dan panjang.
Prastowo juga yakin, upaya lebih untuk menopang kenaikan pajak sebesar lima persen dapat tercapai. Pertimbangannya, pasca pelaksanaan amnesti pajak maka seharusnya bakal terjadi peningkatan basis pajak. “Extra effort lima persen itu masih oke, dengan adanya peningkatan kenaikan setoran pasca tax amnesty,” kata Prastowo kepada Katadata, Kamis (18/8).
Sementara itu, Sri Mulyani mengatakan, tidak ada perbedaan strategi mendorong penerimaan pajak tahun ini dengan tahun depan. Ia melihat, petugas pajak pada tahun ini juga sudah mengejar target penerimaan pajak, di luar pelaksanaan amnesti pajak. Seperti diketahui, pemerintah menargetkan adanya tambahan penerimaan dari uang tebusan amnesti pajak tahun ini sebesar Rp 165 triliun.
Ia mengaku selalu memantau penerimaan dana pengampunan pajak setiap minggu. Hingga September nanti, Sri akan terus memantau hasil pelaksanaan kebijakan itu untuk bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan selanjutnya. (Baca: BI: Tax Amnesty Dorong Ekonomi Tumbuh 5,3 Persen)
“Apakah ada kendala permanen atau teknis, misalnya kurang informasi, pendekatan dan kurang akses. Kalau kendalanya fundamental struktural, lalu menyebabkan revisi target,” katanya. Yang pasti, Sri menjamin kebijakan yang diambil tersebut tidak akan mengganggu target pertumbuhan ekonomi dan kepercayaan pasar.
Komentar Anda