CITAX

Harga Rokok di Indonesia Paling Mahal, Ini Ceritanya

JAKARTA – Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan menilai harga rokok di Indonesia sudah mahal dibandingkan di sejumlah negara lain.

Kepala Subdirektorat Komunikasi dan Publikasi Ditjen Bea Cukai Deni Surjantoro mengatakan, harga rokok dalam lima tahun terakhir cenderung kurang terjangkau.

“Kalau secara nominal absolut memang murah. Dengan mempertimbangkan daya beli, harga rokok di Indonesia sudah mahal,” kata Deni di Jakarta baru-baru ini.

Menurut Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis, Yustinus Prastowo, harga rokok di Indonesia lebih mahal dibandingkan dengan beberapa negara, seperti Jepang, Korea, China, Hong Kong, Australia, Singapura, Malaysia, Myanmar, dan Vietnam.

Penilaian ini berdasarkan indeks keterjangkauan yang diukur melalui rasio Price Relative to Income (PRI) rasio yang mem perhitungkan faktor daya beli ke dalam analisis keterjangkauan harga. Yustinus menjelaskan, harga rokok di Indonesia jika mem perhitungkan faktor daya beli sebenarnya tidak murah.

“Kalau dibandingkan dengan harga dan dihitung daya beli, harga rokok Indonesia sudah mahal dibandingkan dengan negara-negara lainnya,” katanya.

Sebelumnya Direktur Jenderal Bea Cukai, Heru Pambudi, juga menegaskan harga jual sebatang rokok di Indonesia merupakan tertinggi setelah dibandingkan dengan pendapatan per kapita per hari masyarakat.

“Secara nominal harga rokok di Indonesia memang relatif lebih rendah dari pada Singapura atau negara maju lain. Tapi, kalau kita bandingkan secara relatif terhadap pendapatan per kapita per hari, sebenarnya harga jual satu batang rokok kita termasuk yang tertinggi,” katanya.

Harga jual rokok di Indonesia sebesar 0,8% dari produk domestik bruto (PDB) perkapita per hari. Angka ini terbilang tinggi dibandingkan dengan negara maju seperti Jepang.

Harga jual rokok di Jepang berkisar 0,2% dari PDB per kapita per hari. “Memang nominalnya lebih murah di ban dingkan dengan negara-negara maju. Tapi harus kita ingat semua, itu kan dikendalikan juga dari daya beli,” ungkap Heru. (Rakhmat Baihaqi) (dni)

Sumber: OKEZONE.COM, 04 April 2018

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *