CITAX

Hingga Akhir Mei 2020, Perlambatan Penerimaan Pajak Sudah Mulai Terlihat

Jakarta, CITA – Dalam Konferensi Pers APBN KITA disebutkan bahwa realisasi penerimaan pajak Januari-Mei 2020 sebesar Rp444,56 Triliun (35,45% dari target dalam Perpres 54/2020). Realisasi ini mengalami kontraksi 10,8% yoy. Di bulan Mei sendiri realisasi pajak Rp67,89 Triliun atau tumbuh negatif 38,19% yoy. Perlambatan yang semakin nyata ini terjadi seiring dengan dampak pandemi covid-19 terhadap perekonomian yang sudah mulai terlihat.

PPh migas terealisasi Rp16,98 Triliun (38,8% dari target) atau tumbuh negatif 35,6% yoy.

“Jika kita dekomposisikan kelihatan sekali penerimaan PPh Migas hanya Rp17 Triliun di tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang bisa mencapai Rp26,4 Triliun. Hal ini terjadi karna harga minyak yang merosot sangat tajam” kata Sri Mulyani.  “sehingga penerimaan PPh migas kita mengalami kontraksi sangat dalam” lanjutnya.

Selanjutnya, realisasi PPh non migas sebesar Rp264,8 Triliun (40,2% dari target) atau terkontraksi 10,4% yoy. PPN terealisasi sebesar Rp160 Triliun (30,2% dari target) atau terkontraksi 8% yoy. Realisasi PBB sebesar Rp400 milyar (3,2% dari target) atau tumbuh 16,8% yoy. Sedangkan pajak lainnya terealisasi sebesar Rp2,3 Triliun (30,3% dari target) atau mengalami kontraksi 6,4% yoy.

Kontraksi yang dialami oleh hampir semua jenis pajak ini menggambarkan bahwa tekanan ekonomi sekarang dialami oleh semua kegiatan ekonomi. “Perlambatan ekonomi akibat covid-19 akan kita monitor dan bandingkan dengan insentif fiskal yang sudah kita luncurkan semenjak bulan Maret yang lalu”. Pungkas Sri Mulyani.

Hanya PPh 23, PPh 26, dan PPh OP yang masih mampu tumbuh positif

Sementara itu, jika dilihat lebih rinci dalam dokumen APBN KITA, beberapa jenis pajak yang per  April masih tumbuh positif harus terkontraksi di bulan Mei seperti PPh 21 yang tumbuh negatif 5,34% yoy, PPh Badan terkontraksi 20,46% yoy, PPh Final terkontraksi 2,96% yoy, PPN DN terkontraksi 2,71% yoy, dan pajak atas impor terkontraksi 17,13% yoy.

Sebaliknya, PPh Pasal 23 mampu tumbuh positif 6,56% yoy, PPh OP tumbuh tipis 0,55% yoy, dan PPh Pasal 26 tumbuh 14,33% yoy.

Pertumbuhan yang dialami oleh PPh 26 dan PPh OP lebih dipengaruhi oleh faktor situational. Untuk PPh OP karena adanya pergeseran pencatatan SPT tahunan 2019  dan adanya pembetulan SPT hingga 31 Juli mendatang. Sementara itu, kinerja PPh Pasal 26 disebabkan oleh melambatnya restitusi pajak.

Tekanan pada bulan Mei ini terjadi begitu signifikan karna dipengaruhi oleh perlambatan kegiatan ekonomi karna adanya PSBB dan pemanfaatan fasilitas insentif perpajakan dari pemerintah untuk dunia usaha.

Komentar Anda