CITAX

Seluruh Sektor Utama Penyumbang Pajak Mengalami Kontraksi, Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II Diprediksi -3,1%

Jakarta, CITA – Sampai dengan Mei 2020, seluruh sektor utama penyumbang penerimaan pajak mengalami kontraksi. Bahkan, sektor yang pada bulan April masih mampu tumbuh positif seperti sektor industri pengolahan dan jasa keuangan ikut mengalami kontraksi di periode ini.

Dalam konferensi pers APBN KITA Juni 2020, diketahui bahwa sejak Januari hingga Mei 2020, kontribusi pajak dari sektor industri pengolahan sebesar Rp 126,14 T (29,2%) atau mengalami kontraksi 6,8% yoy. Hal ini tercermin pada Purchasing Manager Index (PMI) Indonesia yang pada bulan Mei berada cukup dalam di level 28,60 (indeks di atas 50 berarti ekspansi sedangkan di bawah 50 berarti kontraksi).

Demikian juga dengan kontribusi sektor perdagangan terealisasi Rp84,91 Triliun (19,7%) atau terkontraksi cukup dalam di 12% yoy. Kontribusi sektor jasa keuangan & asuransi sejumlah RpRp69,36 Triliun (16,1%) atau terkontraksi 1,6% yoy. Kontribusi dari konstruksi & real estat sebesar Rp27,63 Triliun (6,4%) atau terkontraksi 11% yoy. Kontribusi sektor pertambangan sebesar Rp18,66 Triliun (4,3%) atau terkontraksi 34,9% yoy. Sedangkan kontribusi sektor transportasi & pergudangan yang dalam tiga tahun terakhir selalu menyumbang double digit growth, pada periode ini terealisasi sebesar Rp19,9 Triliun (4,6%) atau pertama kali mengalami kontraksi di 6,4% yoy.

Jika dilihat kinerja per bulan, industri pengolahan yang masih tumbuh positif di kuartal I (3,71% yoy) maupun di bulan April (0,47% yoy) langsung mengalami kontraksi dalam di bulan Mei 32,82% yoy. sektor perdagangan di kuartal I tumbuh positif 1,29% yoy. Namun, di bulan April sudah mengalami kontraksi 12,46% yoy. Selanjutnya, karena adanya PSBB maka pada bulan Mei turun makin dalam di -36,87% yoy.

Jasa keuangan & asuransi yang di kuartal I masih tumbuh positif 5,51% yoy dan di April bahkan masih tumbuh double digit 14,37% yoy, di bulan Mei harus mengalami kontraksi yang sangat dalam -30,02% yoy. Sektor konstruksi & real estat yang tumbuh positif di kuartal I 6,66% yoy namun harus mengalami kontraksi di April 12,73% yoy terus mengalami kontraksi yang jauh lebih dalam di bulan Mei 32,2% yoy.

Hal yang sama juga terjadi pada sektor pertambangan yang terkontraksi 21,7% yoy di kuartal I, bulan April terkontraksi 21,68% yoy, dan di bulan Mei mengalami kontraksi yang sangat dalam 42,95% yoy. Terakhir, transportasi dan pergudangan juga mengalami turning point yang sangat signifikan dengan kontraksi di bulan Mei -27,7% yoy. Kontraksi ini jauh lebih dalam dari kontraksi di kuartal I 0,71% yoy dan kontraksi di bulan April 11,28% yoy.

“Hal ini menggambarkan betapa pelemahan ekonomi terjadi karena seluruh sektor terkena dampak covid-19” kata Sri Mulyani.  “Kalau kita lihat dinamika per bulannya juga menunjukkan konfirmasi bahwa bulan Mei adalah bulan dimana pukulan terberat dialami oleh semua sektor. Sehingga prediksi kita pertumbuhan ekonomi di kuartal II ada di -3,1%” lanjutnya.

Komentar Anda