Headline Internasional

Twilight of The Tax Haven

Dalam melakukan revolusi pada pemajakan global ini, tentunya terdapat kemenangan dan kekalahan. Dalam hal ini, kemenangan yang paling jelas adalah di mana perusahaan multinasional menghasilkan banyak penjualan tetapi membukukan laba kena pajak yang relatif kecil. Hal ini telah berkembang seiring dengan munculnya digital raksasa seperti Amazon, Apple dan Google, yang asetnya sebagian besar tidak berwujud. Negara-negara berkembang di mana perusahaan-perusahaan global memiliki pabrik dan operasi lainnya juga akan diuntungkan.

Kekalahan yang paling jelas terjadi pada tax haven, yang sejak lebih dari setengah abad yang lalu telah mengambil keuntungan yang saat ini kian meningkat. Sebuah studi pada tahun 2018 menyimpulkan bahwa sekitar 40% dari keuntungan luar negeri perusahaan multinasional secara artifisial dialihkan ke negara-negara dengan pajak rendah. Namun, tempat-tempat yang digolongkan sebagai surga pajak datang dalam berbagai bentuk dan ukuran, dari Karibia yang tanpa pajak hingga pusat pemajakan ringan di Eropa dan Asia.

Hal-hal akan tampak suram untuk wilayah tanpa pajak, seperti Bermuda, Kepulauan Virgin Britania Raya, dan Kepulauan Cayman. Meskipun mereka tidak menghasilkan pendapatan dalam pajak perusahaan, di sisi lain mereka bergantung pada biaya dari anak perusahaan-perusahaan besar dan industri rumahan seperti akuntan, pengacara, dan penyedia layanan perusahaan lainnya yang tumbuh secara lokal.

Beberapa negara Uni Eropa, seperti Irlandia dan Siprus, telah menarik investasi dengan tarif pajak penghasilan perusahaan yang rendah (keduanya memungut 12,5%). Irlandia masih mengalami kerugian, dikarenakan masih mengandalkan tarif 12,5% untuk menarik investasi asing. Pajak perusahaan saat ini menyumbang rekor 20% dari total penerimaan pajak negara. Irlandia telah melobi Amerika, sebagai sumber sebagian besar investasi mereka untuk menentang realokasi radikal hak perpajakan dan pajak minimum di atas 12,5%.

Sumber: The Economist,  5 Juni 2021

Komentar Anda