CITAX

IMF Remehkan Tax Amnesty Agar Indonesia Tetap Tergantung

SKALANEWS.COM  | 16 Maret 2016

-_160315223806-684

Skalanews – Direktur Eksekutif dari Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo menilai, sikap petinggi Dana Moneter Internasional (IMF) terhadap recana pengampunan sanksi pajak (tax amnesty) didasari motif untuk mempertahankan ketergantungan Indonesia atas pinjaman (soft loan) dari lembaga donor tersebut.
“Selama ini mereka rajin memberikan Indonesia soft loan untuk proyek reformasi administrasi yang pengerjaannya lama, persyaratannya banyak, yang kemudian nanti mereka akan carikan konsultan,” ungkap Prastowo di Jakarta, Selasa (15/3).
Dia menuturkan, sebenarnya bukan hanya IMF yang merehkan recana kebijakan itu. Bank Dunia (Word Bank) pun juga bersikap sama.
“Dengan penerapan tax amnesty ini, dan mereka memandang remeh. Ada nuasa bahwa mereka khawatir kehilangan pengaruh untuk Indonesia. Sebab, kita bisa berdiri sendiri tanpasoft loan, bisa membangun sendiri. Ada kecenderungan ke sana,” jelasnya.
Menurut dia, selama ini Indonesia memang sangat tergantung dengan IMF dan World Bank. Bankhan terkesan menikmati apa yang ditawarkan oleh lembaga keuangan asing tersebut, sehingga ketika pemerintah Indonesia akan bergerak dengan kebijakan tax amnesty, kedua lembaga donor itu merasa agak terpukul.
“Kita itu (Indonesia) bisa dikatakan bergantung juga dengan mereka. Karena mereka memang aktif mendampingi, menawarkan diri dan kita selama ini menikmati dukungan IMF dan World Bank. Sekarang ini sebenarnya zamannya Pak Jokowi, kita sebenarnya sudah tidak terlalu bergantung sama pinjaman-pinjaman itu,” imbuh dia.
Prastowo juga menyebut, sikap IMF dan World Bank terhadap kebijakan tax amnestydianggap terlambat. Lantaran, pemerintah Indonesia tidak mungkin mundur dengan kebijakan tersebut. Memang, secara normatif, lanjutnya, ada kesetujuan perlunya sikap hati-hati dalam menyiapkan manajemen data dan lainnya.
“Kalau mereka ngomongnya itu 10 bulan lalu, pas ide ini muncul, itu bisa dipertimbangkan, tapi kalau sekarang-sekarang, itu terlambat. Pemerintah enggak mungkin mundur soal tax amensty karena kredibilitas di sini dipertaruhkan,” katanya.
Prastowo lantas berpesan, pemerintah Indonesia harus berhati-hati dengan apa yang diungkapkan oleh IMF maupun World Bank. Lantaran, itu bisa jadi akan menjadi pintu masuk kedua lembaga tersebut untuk mendampingi Indonesia dalam kebijakan tax amnesty.
“Selama ini mereka enggak diajak berunding atau enggak diminta masukannya soal tax amnesty. Itu kita harus hati-hati. Maksud saya begini, jangan-jangan kalimatnya mereka itu, bersyarat juga. Mereka memang khawatir dan akhrinya menakut-nakuti. Tapi sebetulnya, itu bisa jadi kuncian mereka untuk masuk mendampingi kita untuk tax amnesty ini, itu sangat mungkin,” pungkasnya.
Sebelumnya, Kepala Misi IMF Luis E Bereur mengatakan, penerapan tax amnesty di beberapa negara terbukti kurang berhasil mengakselerasi penerimaan negara. Kejadian tersebut ditakutkan akan terjadi juga di Indonesia.
Dia mengingatkan, sebaiknya pemerintah Indonesia memperbaiki kebijakan pajak maupun administrasi perpajakan terlebih dahulu ketimbang mengedepankan kebijakan tax amnesty ini, agar dapat membiayai kebutuan infrastruktur dan program prioritas seperti belanja dan transfer ke daerah.(ant/wan)

 

Komentar Anda